bintang's posts with tag: seri pd

bagian ke lima NOT JUST LOUDER !
(Kiat jitu berbicara di depan publik)
BE LEARNER AND BE GROOVY
Apa yang kita lakukan disatu
acara jadikan sebagai pelajaran yang berarti untuk menjadi lebih baik.
Sepanjang perjalanan hidup kita akan selalu belajar sampe nyawa permisi
berpisah dari raga. Untuk menjadi pembelajar sejati, kita juga harus
rela untuk berbagi ilmu dengan yang lain. Kita belajar berdiri dengan
cara berdiri, kita belajar membaca dengan cara membaca, kita belajar
membawa motor dengan cara membawa motor, jadi … untuk belajar menjadi
pembicara di depan publik…dengan cara jadilah pembicara di depan
publik. Do it ! lakukan ! karena hanya itu satu-satunya cara
untuk membuktikan teori-teori yang kita pelajari. Lakukan dengan
gembira. Hati yang gembira akan mengusir baying-bayang ketakutan dan
kecemasan.
"Gimana ?"
"Ah..aku pikir jadi pembicara itu hanya cukup bersuara nyaring, just LOUD and LOUDER"
"NOT JUST LOUDER, dong !"
"Tahun depan Ivo yang kudu mengajarkan 'NOT JUST LOUDER' ke generasi 2 IPA-1,"
"Lho harusnya siapapun juga, boleh !"
"Jadi ? kita mulai latihan besok sepulang sekolah ?"
"Lusa…aku kan harus melakukan persiapan,"
"Res…tadi dalam cerita si Riska itu…ia
menyebutkan…dan aku juga tidak ingin ditertawakan oleh Allah… apa-an
sih ?"
"Oooh…itu…salah seorang trainer pernah mengatakan
hal ini berulang kali di sessi motivasinya. Ia bilang, Allah sungguh
takjub melihat orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
mencapai sesuatu. Orang itu memulainya dari nol, merayap,
merangkak, berjalan ia berusaha untuk mencapai tujuannya, tapi begitu
tinggal satu langkah lagi ia akan mencapai tujuannya. Ia berhenti dan
berbalik, syetan tertawa disampingnya,"
Ide sekecil apapun jika bisa disampaikan dengan baik hasilnya akan RRUARRR BIASAA !!!
Nothing impossible if we believe in Allah.
Inspiring idea:
- AlQuran terjemahan
- Reza M. Syarif. 2005. Life Excellent,. Prestasi. Jakarta.
- Steven Covey. 1994. Berpikir dan Berjiwa Besar.
- Michael Michalko. 1991. Thinkertoys. Ten Speed Press, Berkeley. California
- M. Abdul Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Pemimpin Ikhwanul Muslimin. Robbani Press.
- Jeannette Voss and Gordon Dryden. Revolusi Cara Belajar. KAIFA. Bandung
- KAITO
- Makalah dari sejumlah pelatihan, buku-buku motivasi
yang pernah saya pinjam dari teman-teman saya dan pengalaman berbagi
disetiap kesempatan.

bagian ke empat NOT JUST LOUDER !
(Kiat jitu berbicara di depan publik)
EFFECTIVE
Masih ingat kepanjangan dari kata
diatas kan ? E = Enthuasiastic, F = Focus on Target, F yang kedua =
Full Body Language, E = empathy ...nah lanjut ya ...
C = Change and creating an opportunity.
Seringkali kita tidak mendapat
informasi dengan jelas kecenderungan dan motivasi audience. Tiba-tiba
kita dihadapkan dengan public yang pasif atau public yang sangat
beragam – dari anak tk sampai orangtua berumur limapuluh-an- atau
publik yang cuek atau audience yang
datang karena diwajibkan.
Bagaimana pesan yang kita siapkan efektif tersampaikan pada audience ?
Change ! change ! kita perlu melakukan perubahan. Yang banyak di pecah
menjadi kelompok-kelompok, yang kecil diperbesar, mengubah tata letak,
membagi dan mengurangi. Apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana
adalah
teman baik perubahan untuk menghadirkan kesempatan yang baru dan lebih
menarik. Pada situasi seperti ini, kreatifitas pembicara akan
menentukan semua akan baik-baik saja atau semua berubah menjadi Luar
biasa !
T= Talk with your heart. Banyak pembicara terhanyut dengan
pembicaraaannya sendiri dan meninggalkan audiencenya di belakangnya.
Pembicara membiarkan audience menatapnya dengan kerut-kerutan dahi yang
makin lama makin bertambah tanpa melakukan apa-apa. Jika it uterus
berlanjut, audience akan kehilangan antusiasnya dan akan cepat merasa
bosan. Berbicaralah dengan hati. Sentuhlah dengan hati, maka kita akan
peka terhadap perubahan yang terjadi ditengah audience. Wajah
termotivasi, rupa cuek, raut boring, guratan yang menyimpan banyak
masalah di setiap wajah audience akan tampak jelas jika kita bisa lebih
peka. Saat kita dihadapkan dengan kondisi demikian, berikanjeda sejenak
dan pancinglah umpan balik dari audience.
I = Inspiring word. Untuk memotivasi peserta gunakan kata-kata yang
sederhana dan gampang diingat. Galilah ide dari Al-Qur`an, hadits,
kata-kata bijak para tokoh dan ungkapkan dengan ekspresi kata yang
lebih pas menurut pembicara. Kata-kata itu menjadi kata-kata unik milik
kita yang diharapkan dapat menimbukan semangat dan inspirasi bagi
pendengar.
V = Voice Your Word. Suarakan kata-katamu. Bentuklah rima dan/atau
singkatan untuk mempermudah ingatan pada point-point yang kita anggap
penting. Gunakan intonasi keras – lembut, cepat lambatnya suara untuk
membangun konsentrasi publik. Ulanglah beberapa kali point-point yang
penting. Saat tiba pada hal-hal yang penting, buatlah jenak-jenak dalam
suara kita, jangan terburu-buru. AlQur`an mengajarkan kita untuk
menggunakan kata-kata/bahasa yang berbeda untuk obyek yang berbeda.
Qaulan maisyura untuk orang tua, qaulan baligha untuk pencinta puisi
dan sastra, bayan untuk anak-anak, dialogis untuk pemuda. Jika
heterogen ? mix and match lah ya…
E = Expectation and acceptation. Ukurlah target yang kita buat diawal
dengan menerima dan memancing umpan balik dari peserta. Mintalah
kritik dan saran dari audience baik secara tertulis maupun langsung
sebagai bahan evaluasi bagi kita.
"Wah seru banget !"
"Aku lanjutkan ke step selanjutnya ya,"
sabar...bersambung lagi
Inspiring idea:
- AlQuran terjemahan
- Reza M. Syarif. 2005. Life Excellent,. Prestasi. Jakarta.
- Steven Covey. 1994. Berpikir dan Berjiwa Besar.
- Michael Michalko. 1991. Thinkertoys. Ten Speed Press, Berkeley. California
- M. Abdul Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Pemimpin Ikhwanul Muslimin.
RobbaniPress.
- Jeannette Voss and Gordon Dryden. Revolusi Cara Belajar. KAIFA. Bandung
- KAITO
- sejumlah pelatihan dan pengalaman berbagi disetiap kesempatan.
bagian ketiga NOT JUST LOUDER !
(Kiat jitu berbicara di depan publik)
BE FIGHTER
Pelajaran Kimia kosong, Pak Surya cuti selama seminggu karena
menikah. Walaupun Pak Surya meninggalkan tugas yang menumpuk untuk
dikerjakan, tetap saja anak-anak kelas 2 IPA-1 tidak merasa terganggu
dan seperti masyarakat SMU lainnya mereka lebih tertarik membicarakan
olahraga, trend terbaru pakaian, playstation, gossip selebrities dan
banyak lainnya kecuali tugas kimia.
Namun hari ini lain, jika biasanya terbentuk
kelompok-kelompok secara alami dengan tema yang beragam jenis, hari ini
kelas 2 IPA-1 berbeda. Mereka menyeret minat mereka ke sosok perempuan
yang didaulat untuk melanjutkan sessi belajarnya Ivo di depan kelas.
STEP 2 : BE FIGHTER
Untuk hari H password yang kita gunakan adalah EFFECTIVE.
Apa itu EFFECTIVE ?
E = Enthuasiastic. Antusias adalah perasaan yang bersemangat dengan
full energy yang membawa kita dapat menyalurkannya kepada orang lain.
Saat menjadi pembicara kita harus mempersiapkan diri kita dengan
antusias.
No excuses. Pembicara yang mempersiapkan dirinya dengan antusias tidak
punya alasan untuk berpenampilan lusuh, kucel, lepek dan lesu karena
jauhnya perjalanan, misalnya atau banyaknya pekerjaan yang dilakukan
sebelumnya. Tampil cerah, bersemangat penuh gelora dan mengunci masalah
lain di luar tempat kgiatan adalah satu-satunya cara untuk tampil
didepan publik.
Mari bersama kita cermati kesaksian seorang mujahid, ia berkata pada suatu hari ia pergi
menemani pimpinannya ke station Thantha untuk menghadiri undangan salah
seorang tokoh masyarakat dalam rangka meresmikan masjid. Malamnya diisi
dengan membuat majelis-majelis ilmu dan mengajak masyarakat untuk
mengenal agamanya. Pagi besoknya ia kembali menemani pimpinannya ke
statiun thantha untuk ke Kairo, mereka shalat subuh di salah satu sudut
station. Sesampai di Kairo rombongan itu berpisah kembali pulang ke
rumah masing-masing, tetapi pimpinannya pergi ke sekolahnya untuk
mengajar di jam pertama. Itulah kesaksian kekuatan enthusiastic yang
dimiliki Ustadz As Syahid Hasan Al Bana yang diceritakan oleh
penerusnya Ustadz Umar Timisani.
In Time. Pembicara yang baik akan datang bukan tepat waktu melainkan diawal waktu, minimal 10-15 menit sebelum acara dimulai.
Smell so good. Perhatikan bau yang melekat dengan tubuh kita. Bau
badan, bau mulut, bau kaos kaki, dll. Jika kita ragu-ragu dengan fungsi
hidung yang kita miliki, tanyakan yang ada disekitar kita atau cukup
perhatikan ekspresi yang mereka perlihatkan. Pekalah terhadap bau.
Introduce Yourself. Memperkenalkan diri. Kadang lebih baik dilakukan oleh panitia.
Listen on environment. Perhatikan adab-adab sosial yang berlaku.
F = Fokus on Target. Seringkali penunjang materi yang telah kita
siapkan jauh hari sebelumnya tidak bisa kita gunakan ketika dilapangan.
Slide yang telah kita buat semenarik mungkin tidak bisa ditayangkan
karena alatnya tidak ada, OHP belum diambil, papan tulis penuh dengan
coretan spidol permanent yang tidak bisa dihapus, peserta yang sangat
banyak atau sangat sedikit atau mic mati. Jika kondisi begitu yang
terjadi dan kita tidak bisa mengupayakan semuanya kembali membaik,
tidak perlu berlama-lama. Show must go on ! Audience menunggu apa yang
ingin kita sampaikan.
Fokus on Target membuat kita berkonsentrasi pada pesan yang ingin
kita sampaikan pada peserta dan apa yang diperlukan peserta agar dapat
dengan nyaman menyimak pesan dari kita. Otak manusia memiliki 4 panjang
gelombang.
Beta; kondisi terjaga penuh otak kiri dan otak kanan bertukar informasi
selama 13-25 putaran/detik (ppd). Beta, merupakan kondisi saat kita
melakukan pekerjaan kantor, hitung-hitungan fisika atau matematika,
berdiskusi atau sedang berolahraga
Alpha, kondisi rileks-waspada. Kita sering mencapai gelombang Alpha di
saat shalat, lebih-lebih saat qiyamu lail atau saat-saat kita sedang
bermuhassabah. Otak kiri dan otak kanan melakukan pertukaran informasi
8-12 ppd. Pada saat inilah otak manusia siap untuk menerima informasi
dan menyimpannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk mencapai
kondisi Alpha kita menggunakan kisah-kisah menyentuh hati, cerita
berhikmah atau perenungan dan ada baiknya di iringi musik yang lembut.
Theta, kondisi awal tidur 4-7 ppd
Delta, kondisi tidur nyenyak 0,5-3 ppd
F = Full Body Language. Otak manusia menyerap informasi yang diberikan
dengan kata-kata hanya 7 %, jika menggunakan nada dan suara otak
menyerap sebanyak 38 %, jika menggunakan body language pesan akan
diserap sebanyak 55 %. Kemampuan bahasa tubuh mempengaruhi pendengar
membuat setiap pembicara harus memperhatikan beberapa hal.
Kontak mata. Rasulullah Saw jika berbicara dengan orang lain selalu
menimbulkan perasaan hangat dan dihargai pada kawan bicaranya, itu
karena Rasulullah selalu menjaga kontak mata dengan siapa saja yang
diajaknya bicara. Oleh karena itu bayangkan bagaimana kesedihan Wahsy
saat ia dihukum untuk tidak bersitatp dengan mata Rasulullah. Pembicara
yang ingin pesannya tersampaikan menjaga kontak mata dengan seluruh
audiencenya tanpa satupun merasa di abaikan.
Gerakan refleks yang tidak perlu dan mengganggu peserta. Misalnya,
gerakan berulangkali memperbaiki letak jilbab, gerakan mengangkat
celana atau menyentuh reistleitingnya seolah-olah tidak trekancing
dengan baik. Gerakan maju mundur atau ke kiri dan ke kanan yang
dilakukan dengan ritme yang cepat. Memasukkan satu atau kedua tangan
kedalam saku baju atau celana atau meletakkan satu atau keduanya tangan
di balik punggung atau bersedekap dada sering membuat kesan tidak
hangat dan cukup mengganggu.
Perhatikan gerakan tangan yang kita lakukan, apakah gerakan itu membuat
daerah aman setinggi dada dan pusar ? latihlah untuk keluar dari daerah
aman dengan mengacungkan tangan setinggi kepala atau menjulurkan tangan
sepanjang rentangan.
Untuk membuktikan kekuatan bahasa tubuh cobalah permainan sederhana
ini. Berdirilah ditempat yang bisa dilihat oleh seluruh audience.
Fokuskan perhatian peserta pada pembicara kemudian mintalah peserta
untuk mengikuti kata-kata yang diucapkan pembicara. Mengikuti kata-kata
pembicara. "angkat satu tangan !" pembicara juga ikut mengangkat satu
tangan, "pegang lutut !" pembicara terus melakukan semua yang keluar
dari mulutnya, semakin lama semakin cepat diakhir cobalah memberi
aba-aba "sentuh dengan lembut, saya minta sentuh dengan lembut…meja di
depan anda !" saat mengucapkan aba-aba itu pembicara melakukan hal yang
sebaliknya, memukul meja dengan keras, berapa banyak peserta yang ikut
memukul meja dengan keras ? Kita bisa membuktikan gerakan yang kita
lakukan berpengaruh lebih besar disbanding kata-kata yang kita ucapkan
disaat yang bersaman.
E = empathy. Be empathic, not just symphatic/Think what they think/Feel what they feel/Serve what you want them to serve you.
Disalah satu camp pelatihan mahasiswa, seorang fasilitator
pelatihan mengeluh pada koordinator panitia tentang kondisi seorang
peserta, sebut saja Riska, namanya. Pelatihan sudah memasuki hari ke 3
hari dari 6 hari waktu pelatihan yang disediakan, Riska hanya mengikuti
2 sessi termasuk perkenalan artinya jika ia tidak ikut hari dihari
ketiga ini total ia tidak berpartisipasi dalam 9 sessi pelatihan.
Alasannya sakit. Yang membuat fasilitator itu heran, menurut laporan
tim medis Riska tidak mengalami gangguan kesehatan yang membuat ia
tidak mampu mengikuti pelatihan. Khawatir perilaku Riska mempengaruhi
teman-teman dikelompoknya atau peserta yang lain juga melihat kondisi
Riska yang terlihat tidak bersemangat, fasilitator itu menganjurkan
agar panitia membolehkan Riska untuk pulang. Koordinator panitia
–Korta- mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan dan saran
fasilitator tersebut dan mengambil tindakan untuk bertemu dengan Riska.
Hari itu Riska –seperti laporan fasilitatornya-masih meringkuk di
tenda tim medis. Bekas-bekas airmata tampak jelas membuat jejak dikedua
pipinya, ia memang tampak kuyu dan layu seperti orang sakit. Lama waktu
yang dibutuhkan untuk membuat Riska berbicara kepada Korta. Tadinya ia
hanya menanggapi pertanyaan dengan anggukan dan gelengan kepala atau
diam namun setelah dijelaskan tentang beberapa hal terkait dengan
aturan camp pelatihan, tujuan pelatihan dan target yang ingin dicapai,
Riska mulai berbicara. Begitu Riska berani angkat suara, sang Korta
dapat melihat di mana kesulitan sebenarnya yang dihadapi oleh
pesertanya. Dengan cepat, penuh pengertian dan tanggungjawab sang Korta
berhasil mengembalikan Riska ke kelompoknya, mengikuti pelatihan dan
menikmati kegiatan dengan gembira dan bersemangat. Sang Korta melakukan
koordinasi yang cepat tanggap dengan fasilitator kelompok Riska,
trainer dan teman-teman di kelompoknya agar dapat membantu Riska untuk
berbaur baik dengan kelompoknya ataupun dengan peserta – peserta yang
lain tanpa merasa di istimewakan atau dianakemaskan. Karena Riska,
adalah peserta yang mengalami gangguan pendengaran. Perhatikan ucapan
Riska di malam perpisahannya,
"Saat datang ke camp pelatihan ini saya berpikir, jika saya bisa
kuliah bersama orang normal lainnya tanpa alat bantu dengar, saya juga
bisa ikut dalam camp pelatihan ini dengan sama mudahnya. Hari pertama
disessi perkenalan, permainan 'The King' itu membuat saya terlihat
jelas berbeda dengan yang lain, tapi saya masih berpikir semua akan
baik-baik saja. Saya tidak tahu, ternyata di sesi ke dua keadaannya
lebih tambah parah, saya tidak bisa mendengar jelas perintah trainer,
saya juga tidak bisa dengan cepat mengikuti permainan yang
mengedepankan kecepatan suara dan kecepatan gerak. Saya merasa menjadi
seekor tikus yang terperangkat di maze percobaan. Ada banyak tawa di
sekeliling saya, tapi saya tidak bisa ikut tertawa bersama. Saya pikir,
this is enough for me. Saya sedih. Lebih dari segalanya saya merasa
kembali cacat. Di saat saya ingin berbalik pulang membawa kesedihan
saya, ada banyak tangan yang menahan saya di sini. Koordinator panitia,
seluruh panitia, fasilitator saya, trainer, temamn-teman…semua
merangkul saya dalam semangat yang sama. Kita bisa maju, kalau kita
pikir bisa. Terima kasih untuk kesempatan berkembang bersama kalian
semua, saya tidak akan melupakannya. Lebih dari segalanya, mengutip
kata fasilitator saya, saya tidak ingin syetan tertawa disamping saya,"
Itu adalah unjuk kekuatan empathic. Itu adalah empathic.
bersambung..lagi dan lagi ...
Inspiring idea:
- AlQuran terjemahan
- Reza M. Syarif. 2005. Life Excellent,. Prestasi. Jakarta.
- Steven Covey. 1994. Berpikir dan Berjiwa Besar.
- Michael Michalko. 1991. Thinkertoys. Ten Speed Press, Berkeley. California
- M. Abdul Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Pemimpin Ikhwanul Muslimin.
RobbaniPress.
- Jeannette Voss and Gordon Dryden. Revolusi Cara Belajar. KAIFA. Bandung
- KAITO
- sejumlah pelatihan dan pengalaman berbagi disetiap kesempatan.
Bagian Kedua dari NOT JUST LOUDER
(Kiat jitu berbicara di depan publik)
BE PATIENT
Jauh-jauh hari sebelum kita diminta untuk jadi pembicara kita kudu-must-wajib-harus
a. Niat yang tulus. Sesungguhnya segala kebaikan yang kita kerjakan
harganya sesuai dengan niat kita, jika niat kita lillahi ta'ala, hanya
karena Allah saja, semoga pintu keberkahan selalu bersama ucapan dan
tindakan kita, jika niat kita hanya untuk mendapatkan sanjungan dan
harta saja maka hanya itu yang kita dapatkan.
b. Lengkapi diri dengan informasi. Galilah sebanyak mungkin
informasi yang terkait dengan materi yang ingin kita sampaikan. Buatlah
mind mapping –peta pemikiran- hubungkan semua hal yang terkait buatlah
cabang-cabangnya, identifikasi dan susunlah point-point penting.
Misalnya ; RUU
Pornographi–DPR-Seniman–Selebriti–masyarakat-orangtua-anak-partai
politik-media elektronik-media
cetak-duit-moral-kerja-sponsor-pelacuran-pemerkosaan-child
abuse-hukuman- …
c. Men-Jiwa-i tujuan pembicaraan. Ada tiga kemampuan pembicara publik
1) Pembicara reading. Pembicara yang kemampuan
menyampaikan
pesannya
dengan cara membaca. Tekstual,
dan kaku. Presiden RI ke 2 sering
melakukannya.
2) Pembicara having. Pembicara
yang kemampuan
menyampaikan pesannya
di peroleh karena bakat. Ia dapat
menyampaikan pesan
pada khalayak
ramai dengan jelas,
dapat mempengaruhi mereka dan dapat
membuat mereka
bergerak sesuai dengan idenya. Presiden RI yang pertama,
Stalin, Hasan
Albana, AA Gym, Hideyoshi Taikichiro.
3) Pembicara Being. Pembicara yang
memiliki kemampuan
menyampaikan pesan
karena ia mempelajarinya.
d. Kenali Audiense. Untuk menjadi pembawa pesan yang berbicara di
depan banyak orang, pastikan kita mengetahui beberapa hal penting
tentang audience kita.
1) Jumlah audience. Berapa laki-laki, berapa perempuan.
2) Status audience. Jomblo berapa orang, menikah berapa orang.
3) Pendidikan
4) Kecenderungan perilaku dan motivasi mereka mengikuti acara
5) dll
e. Siapkan rencana untuk menghadapi keadaan yang ideal dan rencana untuk menghadapi keadaan yang paling buruk.
f. Point terakhir di STEP BE PATIENT ini adalah point yang mengikat
seluruh point yang lain dan memberikan kekokohan di step selanjutnya.
Kekuatan IBADAH ! kekuatan hubungan kita dengan pemilik semua kekuatan
di langit dan di bumi. Sponsor utama kerja kita adalah point ini.
Kekuatan Ibadah. Sejatinya, semakin sering seorang pembicara
menyampaikan pesan bagi orang lain semakin sering ia berkonsultasi
dengan yang MAHA BENAR.
"Jadi mulai sekarang tidak alasan untuk bolos qiyamu lail,"
bersambung lagi... 
Inspiring idea:
- AlQuran terjemahan
- Reza M. Syarif. 2005. Life Excellent,. Prestasi. Jakarta.
- Steven Covey. 1994. Berpikir dan Berjiwa Besar.
- Michael Michalko. 1991. Thinkertoys. Ten Speed Press, Berkeley. California
- M. Abdul Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Pemimpin Ikhwanul Muslimin.
RobbaniPress.
- Jeannette Voss and Gordon Dryden. Revolusi Cara Belajar. KAIFA. Bandung
- KAITO
- sejumlah pelatihan dan pengalaman berbagi disetiap kesempatan.
(Kiat jitu berbicara di depan publik)
"Tendriii … teganya…!?" suara yang bernada geram itu
melengking di ruangan yang tidak seberapa luas yang dibagi dua oleh
empat papan tripleks. Dua anak perempuan yang berseragam putih abu-abu
menoleh kea rah si empunya suara sambil menggunakan ekspresi 'where-do
you think-you-are ?' yang dibalas kembali dengan tatapan mata naga.
"Kau menyerahkan aku ke kandang buaya ? kenapa
mendaftarkan namaku untuk lomba debat mewakili kelas ?" mata naga itu
kini berubah diliputi selaput kabut bening. Huwa…jangan nangis dong…!
"Sorry…afwan…maaf…nyuwun pangapunten…aduuh…itu tadi
mendadak dan mendesak. Bener deh, kalau tidak di tantang aku nggak
bakalan mengajukan namamu untuk mewakili kelas 2 IPA-1,"
"Ivo…aku minta maaf, tapi kelompok Meta dan kawan-kawan jadi tambah
belagu semenjak Resti dipastikan tidak boleh lagi mengikuti lomba debat
tahun ini. Mereka bilang kelas kita kelas buangan, Resti di kata gen
yang bermutasi di kelas kita. Lagi pula seluruh kelas mendukung, kok,"
"Mendukung…mendukung apanya ? mau bikin aku Ivo
gulai, Ivo sate, Ivo guling untuk seluruh murid sekolah kita ? aku
tidak bisa bicara di depan banyak orang, itu sudah semua orang tahuuuu,
Tendri !"
"Justru karena itu, Vo. Aku bilang, kalau perwakilan
dari kelas Meta tidak masuk final dan kelas kita yang masuk final
mereka sekelas harus ikut kajian mingguannya rohis selama tiga bulan
berturut-turut atau harus membayar 50 juta ke kelas kita. Mereka setuju
asal wakil dari kelas kita itu, kamu," Tendri memaksa senyum kikuk yang
berbuah seringai musang.
"Dari mereka siapa ?"
"Kresna,"
"Apa ? dia kan tahun kemarin juga sudah pernah ikut
dan berhasil sampai babak semifinal. Otak kalian sedang cuti hamil, ya
?" Suara Ivo kembali tinggi.
"Habis mau bagaimana lagi, habis tandatangan
perjanjiannya, aku baru sadar belum menanyakan wakil dari kelas mereka
siapa…ya …gitu deh,"
"Resti bersedia membantu untuk menjadi lawan
debatmu, Vo dan tentunya senseimu. Agung akan menyiapkan tampilan
materi di multimedianya, biar tambah wowww… bagaimana ?" bibir Ivo
mengumpul merengut. Bisa apa lagi ? perjanjian sudah ditandatangani
dibawah stempel OSIS dan meterei senilai enam ribu rupiah. Ada
tandatangan 2 orang saksi, ketua OSIS dan ketua panitia lomba debat. Ia
rasanya ingin lenyap dari muka bumi ini. Seorang Ivo yang selalu
berkeringat dingin, kikuk dan gagu kalau di minta untuk berbicara di
depan banyak orang menjadi perwakilan kelas untuk lomba debat ? dua
bulan lagi ! Wooo-aaah ! jika ini mimpi…plis dong ah…segera ada yang
bangunin !
Angin semilir lembut membawa satu daun kering jatuh
ke tengah pekarangan Rumah Resti. Mata Ivo mengikutinya. Daun kering
itu seperti aku, pikirnya. Tidak memiliki kekuatan untuk menolak masa
rapuhnya dan terbawa angina ke tengah-tengah pekarangan, sebentar lagi
ia akan tinggal serpihan-serpihan debu begitu kaki-kaki manusia atau
ban motor atau mobil melindasnya remuk. Seperti nasibku dua bulan lagi.
Hhhh…Ivo membuang nafasnya, jerih.
"Hayo…one dollar for your mind, what a moment left
behind ?" Resti keluar dengan baki berisi air dingin dan kue cokelat
Tosca. Uhmm..nyummi.
"Aku serasa akan di eksekusi dua bulan lagi," bisik
Ivo lirih. Resti tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa sih yang bikin kamu tidak berani berbicara di
depan banyak orang ? terus terang lho, Vo, aku, Tendri dan teman-teman
lain heran abis sama kamu. Kamu bisa bercerita panjang lebar tidak
habis-habisnya di kantin saat istiraat atau dilapangan basket saat
olahraga, tapi kamu langsung gagu dan mengunci mulut rapat-rapat kalau
diminta bicara di depan kelas. Kan sama saja, Vo. Di kantin kamu bicara
di depan banyak orang…di la..,"
"Beda, Res… dikantin atau dilapangan saat aku
berbicara orang tidak perlu menatap aku, yang mau dengerin silahkan
yang nggak mau ya…rugi banget…he.he.he…the point is..aku bukan fokus
perhatian mereka,"
"Kenapa memangnya kalau jadi fokus ? malu ?" Ivo diam sebentar kemudian menggelang.
"Takut ?"
"Mungkin…"
"Why ?"
"Aku takut mereka bosan dan menjuluki aku si tukang
jual obat," ha..ha..ha…Resti tertawa geli dan panjang. Sebelah alis
mata Ivo terangkat, bertanya.
"Afwan…" Resti menutup mulutnya dengan kedua tangannya menghentikan tawa gelinya yang masih menggoda.
"Afwan…habisnya…ehm…pembukaan untuk pelajaran kita siang ini adalah memperhatikan tukang jual obat,"
Haaah ??? nyindir nih ?
Bagaimana kita berbicara sama pentingnya dengan apa yang ingin kita sampaikan
Perhatikan tukang obat di pasar bagaimana ia menarik begitu banyak orang berkerumun ke tempatnya
1. Pilihan katanya tepat, biasanya provokatif, persuasive, hiperbola dan sering di
ulang-ulang. Perhatikan ! kadang-kadang tukang obatpun berpantun.
2. Ia menggunakan intonasi yang naik turun, keras-lembut, cepat-lambat sehingga
membuat orang semakin tertarik
3. Body Language, si tukang obat biasa bertepuk tangan, mengayung-ayunkan
tangan, melompat-lompat, berpantomim, tidak jarang menyayat tubuhnya untuk
membuktikan salah satu obat yang dibawanya ampuh menyembuhkan luka
tersayat benda tajam.
Coba perhatikan lagi. Banyak dari tukang obat biasa
menggunakan satu istilah dalam berbagai bahasa asing maupun bahasa
daerah. Ia menyapa orang yang lalu lalang di sekitarnya dengan
ciri-ciri dan karakter fisik yang tampak. Misalnya, orang yang berkulit
kuning gading dan bermata segaris pedang dipanggilnya enci atau koko,
orang yang perawakan arab disapa umi-abi atau ukhti-akhi, anak muda
berdialek madura di panggilnya cong, terdengar disampingnya orang
memanggil uda, ia ajak berbicara padang. Hebat, bukan?
Tukang obat tidak berhenti bicara dalam hampir 2 jam
nonstop bahkan lebih dengan kekuatan suara yang sepertinya tidak banyak
berkurang. Orang menyebutnya, wajar! Thats not an amazing happen if
just one way and only to get money...! tidak ada yang aneh...itu hanya
cara si tukang obat mencari uang. Really ?
Sekarang, jika ada yang mau memberikan hadiah 1 M kepada para penonton
si tukang jual obat untuk berkoar-koar selama 2 jam di pasar itu dan
mampu menjual obat sebanyak yang dijual tukang obat selama 2 jam ?
adakah yang sanggup ? perkiraannya 1: 1000 kejadian ada orang yang
sanggup, mungkin, kecuali jika ada tukang obat yang lain yang
sempat-sempatnya nongkrong melihat saingannya jualan
he....he.....he........
Mengapa 1=1000 ? Karena tidak ada satu orangpun yang
berkumpul disekitar tukang jual obat itu yang mempersiapkan dirinya
untuk berkoar-koar apalagi menghafal banyak macam obat dan khasiatnya
selama 2 jam lebih. You Got It ? YUPE !!! PERSIAPAN.
“Jenderal yang memenangkan pertempuran membuat
banyak perhitungan di kuilnya sebelum pertempuran terjadi” (sun tzu)
"Kamu belajar ilmu perang Sun Tzu ?" tanya Tendri
yang baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi samping Ivo. Ivo
mendelik. Kutu ! mengganggu saja...
"Strategi perang Sun Tzu beberapa dapat diterapkan di banyak bidang,"
"Strategi perang Rasulullah semuanya bisa diterapkan di semua bidang," sambar Tendri cepat.
"Asal kita mau menggalinya..."tambahnya sambil
mencomot kue Tosca yang terlarang bagi Ivo sampai sessi belajarnya
selesai.
"Tadi kayaknya bahasan kita mau masuk ke tahap
PERSIAPAN ?" Ivo mengalihkan matanya dari toples kue Tosca ke Resti
sedang memainkan HP.
"YUPE ! kita punya tiga tahap untuk menjadi
pembicara professional. Tahapan pertama, BE PATIENT; ke dua BE FIGHTER
; ke tiga BE LEARNER and BE GROOVY"
Ada banyak lho kendala untuk berbicara di depan
publik apalagi jika yang ingin kita sampaikan merupakan nilai-nilai
yang dipandang aneh, sok suci dan kolot oleh beberapa orang.
Kendala-kendala itu diantaranya, adalah :
Ego yang dimiliki setiap orang.
Takut berubah. Perasaan malu, takut dicemooh, khawatir gagal adalah
reaksi yang wajar untuk tahap tertentu. Namun jika karena hal-hal
tersebut kita memilih untuk berdiam diri dan terkungkung ditempat yang
aman kesempatan kita untuk berkembang menjadi mnauisa yang lebih baik
akan hilang begitu saja. Bukankah Allah selalu mengingatkan kita dalam
AlQur`an "Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum kaum itu mau
mengubah dirinya sendiri"
Asumsi yang salah dan berlebihan.
Gagal dan salah hanyalah sebuah kata yang akan kita temui jika kita
bergerak melakukan sesuatu. Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan
adalah orang yang tidak pernah berbuat sesuatu. Bukankah Allah memuji
orang-orang yang melakukan kesalahan dan kemudian bertaubat ?
Perbedaan istilah dan bahasa
Terlalu banyak gangguan (ribut, hujan deras, banyak anak kecil yang menangis, dlsb)
Lemah semangat, dll
Untuk meminimalisasi rintangan dan kendala-kendala itu kita lakukan STEP BE PATIENT.
---sambung ke bag 2
Inspiring idea:
- AlQuran terjemahan
- Reza M. Syarif. 2005. Life Excellent,. Prestasi. Jakarta.
- Steven Covey. 1994. Berpikir dan Berjiwa Besar.
- Michael Michalko. 1991. Thinkertoys. Ten Speed Press, Berkeley. California
- M. Abdul Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Pemimpin Ikhwanul Muslimin.
RobbaniPress.
- Jeannette Voss and Gordon Dryden. Revolusi Cara Belajar. KAIFA. Bandung
- KAITO
- sejumlah pelatihan dan pengalaman berbagi disetiap kesempatan.
| |