tahun 2003, bulan November. hari ke 2 Ramadhan...
"de`, nambah tugas untuk ramadhan ini boleh ?" ketua umum masjid datang
dengan cengar-cengir khasnya meminta bantuan. Siapa juga mau nolak ?

ada permohonan ke masjid untuk memberi makan gratis 100 orang
musafir dan yatimpiatu selama ramadhan. syaratnya hanya satu : standar
makanannya harus bukan makanan yg biasa-biasanya.
jadi, demikian. ditengah persiapan beberapa training dan beberapa
kegiatan diluar kota, saya juga membentuk tim kecil bareng teman2 untuk
membuat kegiatan makan gratis itu lancar dan sesuai standar yg di minta.
hari pertama berlangsung lancar. alhamdulillah. kebahagiaan tiada
terkira melihat senyum bahagia dari teman2 sesama perantau dan
adik-adik yatimpiatu yang dijamu. Teman saya Septina bahkan, sepanjang
buka shaum sampe makan malam selesai matanya terus berkaca-kaca kadang
pula saya sempat menjemput satu-dua bening dimatanya yang tidak kuasa
ditahan. Ah, Septina salah satu dari beberapa teman saya yang telah
yatim piatu sejak SMP. Bagaimana rasanya tidak memiliki ayah dan ibu ?
detail wajah-wajah adik-adik yatimpiatu itu saya rekam bersama do'a.
hari ke lima ramadhan. setelah shalat isya, jelang tarawih...
"mbak, tadi siang k`upie nelpun ke kost..."
"oya ? tumben siang-siang...ada apa ya ?" saya asyik mengedit film yang akan ditonton bareng, besok.
"ayah mbak...tadi siang sudah nggak ada," saya menoleh
"apa ?"
"ayah mbak...tadi siang meninggal," kosong. dengan [sok] tenang saya meraih dompet dan bersegera ke wartel depan masjid.
menelphone rumah. tidak lama di seberang mengangkat telphone. suaranya
terdengar lumayan gaduh...om -kakak mama- yang menerima...hanya
mendengar suara salam saya, segera om berteriak memanggil
kakak...telphone berpindah ke kakak...
"de`...kuatkan ? sudah tiba masanya papa. i know u a tough sista..."
"papa meninggal... jam berapa ? dimakamkan jam berapa ?" kakak mengabarkan singkat...
"boleh bicara dengan mama ?" ada jeda disana.
'dd itu, papa banged'...ah
ya, mama mungkin masih sangat shock. ya sudah. telpon ditutup. saat
itu, malam rasanya tidak akan berakhir. tephone dan hp berdering hingga
subuh. dari saudara dan teman-teman...
...papa...
...bagaimana wangi tubuhmu ?..aku bahkan hampir tidak ingat...
"bagaimana rasanya, mbak icha ?" seorang adik yang juga sangat dekat
dengan ayahnya bertanya dengan agak segan dari seberang telphone pukul
3 pagi. saat sahur...
"bagaimana ?..."bingung
"sekarang tidak terasa apa-apa. kosong," kami tertawa lirih. ayahnya
sedang dirawat dirumah sakit. sudah beberapa kali cuci darah. sedangkan
papa, pagi hingga 30 menit sebelum meninggal masih sempat cuci mobil,
bantu mama ke pasar dan nelpun beberapa saudara untuk mengingatkan
acara buka shaum di rumah..
paginya, ada telpun dari penanggungjawab dana makan gratis yatim piatu se Malang untuk janji bertemu.
ah. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah telah memberi saya kehidupan yang lama bersama papa. penghiburanMu sunggu jeli.
Juni, 2006
di televisi jogja di guncang gempa...
ratusan keluarga kehilangan sanak keluarga, rumah dan semua harta bendanya...
tak bersisa, tak terkira, tak disangka...
dihari yang sama...
hanya karena salah informasi dan komunikasi yang macet, hampir 500 buah
buku2 saya *yang lebih dari 4 tahun dikumpulkan* tidak bersisa...
dijual ke tukang loak, oleh penjaga rumah...
"pantesan mbak, bukunya tebal2 dan masih bagus2, ternyata bukan buku untuk diloakkkin ya...?" tanya beliau lugu...
mata saya gerimis. perpustakaan kecil yang saya cicil sedikit demi
sedikit...hilang begitu saja. Belum lagi ada beberapa buku pinjaman
yang belum saya sempatkan untuk dikembalikan...
sesak rasanya...
berkaca pada mereka yang kehilangan di Jogja...
Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih, hanya buku itu yang lenyap, bukan kesempatanku dibumi...
terima kasih...
pelajaranMu sungguh halus.
-----------------------------------------------------------------------
*melihat buku yang baru saja duikembalikan teman dengan nomer 532...