bintang's posts with tag: cerpen
"Din, temanmu sudah lama menunggu di bawah. Cepatlah nak,"mama berteriak sepertinya dari bawah tangga.
Aku mematut-matutkan wajah di cermin, "sebentar lagi ma," balasku dengan teriakan lebih keras. Ini pertemuan penting dan dia harus mendapatkan kesan "lebih cantik dari fotomu' atau paling tidak ia bisa bilang 'aku lebih suka bisa liat yang aseli seperti ini'. uhm...
"Dina...!" uh mama. kebiasaan deh. Aku menyapu bibirku dengan lipgloss, sekali lagi. Semoga tidak ada yang kurang. Aku selempangkan tas imut berwarna cokelat tanah dan bergegas ke bawah.
"pamit ma" aku mencium tangan dan pipi mama. Pura-pura tidak sadar dengan mata mama yang penuh tanda tanya. Dandananku terlalu rapi untuk belajar kelompok? ah tentu tidak. Terlalu cantik. he.he
Helga tersenyum iri melihatku. Yah, ia baru dua hari ini belajar berkenalan dengan banyak orang, bertukar informasi kebiasaan dan kesukaan. Belumlah ia sampai pada levelku. Behubungan hati, bertemu rasa. Helga bisa dibilang masih perlu menempuh banyak hari lagi untuk setingkat denganku saat ini.
Sesampainya kami di Gavier aku membayar account dan menuju meja yang kosong. Helga mengambil meja yang lain.
"Hei! baru datang?" aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Jantungku berdebar-debar.
"Akhirnya aku bisa melihatmu sekarang," aku mengiyakan. Lama. Ada jeda panjang setelah itu. Bunyi halus seperti terompet kecil terdengar dari balik meja. Kenapa ia tidak mengucapkan sesuatu? apakah...
Seseorang mengetuk-ngetuk mejaku. Aku melemparkan pandangan sengit, terganggu.
"Maaf dek, listriknya mati. Kalau ada file yang penting disimpan saja di folder pelanggan. Simpanan energi cadangannya kurang dari tiga menit," aku membelalakkan mata. Ouch!
-------------------------------------------------------- ditulis sambil nunggu angkot, duduk di halte sebelah anak SMP yang baru selesei latihan pramuka...
“Gayalah kita ini, menolak lamaran Pak Tuo Rasyid, ibu. Sudah diangkat-angkat malah kemangkat,” dengus Ratmi berbalas tawa kecil dari sosok yang berdiri di balik kemulan asap kuah hitam dan asap kayu bakar. Kening Ratmi menggaris kerutan halus diwajahnya yang legam,”apalah lagi yang harus kita enggankah sih, bu ?” ah akhirnya tak tahan jua ia menanyakan alasan itu. “GOSIP !” “apa ?!” suara tanya Ratmi tercekat. Bukannya tidak mendengar ucap alasan itu, hanya saja... Ibu Ndaru kalah takut dengan gosip ? Pelan bibirnya yang cokelat tua dan mulai pecah-pecah, mengulas senyum. “tenang, bu. Kalu hanya urusan gosip, biar aku yang membereskannya.” bayangan petakannya menjelma gedung, meluahkan lega. Tidak akan lagi masa mengantri panjang hanya sekedar untuk berak dan mencuci. Tidak lah lagi ia mendengar serapah dan hina Ko`chan atau 'Ji Bondan karena menunggak hutang. Si Tegar mungkin bisa sekolah lagi kalau ia mau. Pun sudahlah lama ia tak beli gincu dan bedak kota. “jadi, kalau gosipnya beres...ibu mau terima lamaran Pak Tuo Rasyid ?” Helaan berat dan tawa pahit memotong senyumnya.
mykampung, 16.12.07
"anak-anak, tahun ajaran ini ada yang beda, " bisik-bisik tidak jelas terdengar seperti sekumpulan lebah yang sedang rapat.
"tahun ini, siapa saja murid kelas 6 boleh menentukan mau lulus atau tidak dari kelas ini, "Ibu Maryam meneruskan kalimat pembuka pertemuan di hari pertama, minggu pertama dengan kelas asuhannya. Segera saja "waaa..." terdengar bersahutan dari bening dan kerlip mata yang duduk melingkar diatas gelaran karpet hijau.
"boleh menentukan bagaimana,bu ?" tanya pemilik sebuah tangan mengacung, setelah permisi untuk menyela. Nisa, si penyabet ranking I di kelas VA.
"seperti nyoblos nentukan gubernur ya, bu ?" sambar Rudi cepat. disambut gelak tawa teman-temannya.
"Iya mirip nentukan gubernur," jawab Bu Maryam tangkas...Lho ? kok nyambung ya Bu Maryam ?
"Hanya saja...yang jadi calon gubernurnya setiap anak kelas 6, waktu pencalonannya satu tahun dan lawan kita adalah UAN."
"ekhm...bu," Rudi mengacungkan tangan," Bu Maryam menelengkan kepalanya , bertanya -simpatik-
"setahun itu...berarti termasuk liburan ya..?" Ah rudi emang pintar berhitung...
"itu bisa juga kita atur !yang menjadi perhatian adalah kita semua berusaha untuk bisa jadi Gubernur,"
"lho gubernurkan cuma satu, bu" cengir Rudi
"kita menyiapkan Gubernur untuk semua Propinsi," jawab Bu Maryam dengan senyum
"Kita akan berusaha agar dapat mengalahkan lawan kita, UAN !"
"Caranya ?"
"Kita akan saling bantu," horeeee ! kelas meledak riuh....
"Tapi,bu. Bukankah kita tidak boleh mencontek saat ujian ?" tanya Alwi, anak bertubuh paling mungil di kelas 6. Bening-bening mata itu bersinar ingin tahu...
"dalam agama jugakan dilarang untuk main curang, bu,"bisik Arif pelan, seolah tidak ingin ibu guru tersayangnya tersinggung.
Ibu maryam bertepuk satu kali dengan gembira, mulutnya berhias senyum. "Kita akan saling bantu dari sekarang, bukan untuk berbuat curang -terima kasih Arif- atau mencontek -terima kasih sudah diingatkan Alwi- Kita akan saling bantu untuk sama-sama mencari tahu bagaimana cara belajar yang menyenangkan disetiap pelajaran,"
"Aisyah mungkin bisa berbagi dengan kita bagaimana belajar matematika dengan mudah," Aisya mengangguk dan tersenyum kecil -bangga-
"Dody, bisa bantu temannya yang lain, bagaimana caranya membuat karangan yang enak dibaca," "kue kali,bu," sela Rudi. ditanggapi tawa hangat dari Dody.
"untuk tahap pertama, silahkan sekarang kalian menuliskan pelajaran yang kalian sukai. Juga tulis alasan," "boleh lebih dari satu, bu" tanya Andika. Ibu Maryam mengiyakan. "boleh semua pelajaran, bu?" "Boleh !" Angguk Bu Maryam masih dengan senyum.
Kelaspun sibuk menulis. Hingga bel usai jam sekolah berbunyi. Anak-anak mengeluh panjang-pendek beberapa saat. enggan beranjak dari kertasnya. tidak terdengar suara Bu Maryam mengeluarkan kata komando pulang, hanya semua sudah tahu, bahwa kini giliran bertemu dengan orangtua. Anak-anak bersalam-salaman dan berlari dengan gembira.
Catatan Bu Maryam Rudi : cerdas lingustik
Koin logam itu memanggilku dengan nyaring. Harapanku yang mana yang akan dikabulkan ? Bos besar tidak masuk ? atau supervisorku lupa menceramahi keterlambatanku pagi ini ? atau aku mendapatkan promosi jabatan ?
Gegas kulangkahkan kaki.
Aha ! Bos besar tidak masuk ! Aku bernyanyi dan melenggok jempol dangdut dalam hati. Satu !
Supervisorku hanya menggeleng lemah melihatku menarik kursi dan mulai bekerja. Telat tigapuluh menit. Dua !
Apakah tiga harapanku pagi ini terkabul semua ?
Koin kupegang erat dalam saku.
Ada amplop putih bersegel kantor di mejaku. PROMOSI ??? Aku berdebar tegang. Ya, tiga !
Oh, tidak ! Aku dipecat !
NOL ! -------------------------------------------------------------------------------------- @elbintangmaret2007
“Kie, kenapa tadi pagi susah sekali dibangunkan ?” Sadie, menegur Kirey yang sedang sarapan.
“Kie, susah tidur,” jawab Kirey pelan. Dibawah matanya terdapat lingkaran hitam tanda gadis kecil itu kurang tidur. “Kie, sudah rindu rumah ?” tanya Sadie dengan suara yang juga dipelankan. Kirey menatap wajah kakaknya sejenak kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Selamat pagi anak-anak…bagaimana tidurnya semalam ?” Bibi Hani memeluk kepala Kirey, menciumnya lalu mengelus kepala Sadie dan Bima.
“Enak, Bi Hani. Rasanya kerasan,” ujar Bima sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kirey tanpa terlihat bibinya.
“Nah kalau begitu sarapannya harus sampai kenyang. Makan siang nanti jam satu. Bi Hani harus jaga toko dulu. Nanti pulang sore. Kalian boleh main diperpustakaan atau di halaman belakang. Kalau mau jalan-jalan, ada sepeda di gudang, boleh dipake. Asal kalian hati-hati dan pulang sebelum makan siang, oke ?” Bi Hani mengambil roti tawar sepotong, mengolesnya dengan mentega, meletakkan telur mata sapi, irisan tomat dan sehelai daun selada sebelum menangkupnya dengan sehelai irisan roti yang lain. Tangannya cepat sekali. Bima, Sadie dan Kirey menganggukkan kepala mereka bersamaan, mulut mereka penuh berisi. Bi Hani tersenyum senang melihat anggukan mantap mereka bertiga.
Rumah Bi Hani besar dan terasa sepi. Hanya ada Mak Lian tukang masak yang sibuk di dapur dan Mang Karta yang tidak suka diganggu jika sedang mengolah kebun bunganya.
Bima berencana untuk mengajak Sadie dan Kirey jalan-jalan ke pantai hari ini. Kata Mang Karta di pantai mereka bisa menemukan batu ungu berkilap yang kabarnya adalah batu bertuah.
“Hari ini kita di rumah saja ya ?” pinta Kirey sebelum Bima berbicara. Bima dan Sadie menarik kursinya lebih mendekat ke Kirey.
“Kenapa ?” tanya Bima mata bulatnya menatap heran si adik kecil.
Rumah laba-laba.
Dibangun di tempat tak tersentuh.
Menjaring
sesiapa saja yang tertipu.
“Meja ini kosong ?” Wafa tidak perlu memutar lehernya sembilan
puluh derajat untuk melihat sipenanya, karena kaki-kaki panjang milik
geek berambut cokelat kemerahan telah berada diseberangnya.
Semeja. Sekilas tampak Wafa mengangkat kedua bahunya tanda tidak
peduli dan tanpa mengubah posisi duduknya ia kembali menekuni
tumpukan buku yang sejak tadi membentot perhatian.
“Hei ! Wafa, kan ? Masih kenal aku ?” geek itu menyapa Wafa
tiba-tiba ditengah sepuluh menit jeda kedatangannya. Wafa menaikkan
sebelah alis, mengintip teman semeja dari kacamata minus limanya yang
sedikit melorot.
“Fred Randolph. Asisten Professor Will Anderson. Kau tergabung di
tim kami yang akan ditugaskan ke Xerox Corporation PARC ?” Wafa
menegakkan tubuhnya dan melepaskan kacamata minus diatas buku tebal
yang tengah terbuka. Palo Alto Research Center, Pusat Riset Xerox
tempat legendaris di daerah Silicon Valley, California. Fred Randolph
? memori data diotak Wafa bekerja untuk mengenali sosok geek
di depannya. Jeans belel, t-shirt cokelat yang mulai memudar serta
kemeja putih lusuh dengan lengan dilipat tigaperempat merupakan
penampilan khas teman-temannya di M.I.T. Namun tanda pengenal kecil
berupa pena berinisial PARC membuatnya yakin bahwa ia memang sedang
berhadapan dengan anggota tim eksklusif yang sangat jarang ditemuinya
berkeliaran di taman kampus seperti saat ini.
Wafa spontan melirik komputer genggamnya, adakah pesan penting
yang terlewati…
Perempuan itu menggunakan kerudung kuning bercorak terulur
panjang diatas gaun anggunnya berwarna kuning lembut, serasi. Wajahnya
terlihat tegang, cemas, sedikit bingung dan kadang-kadang …kosong. Apa
ia berada dipihak yang tidak ingin berpisah ? mungkin begitu, karena
ekspresi perempuan itu seperti guratan-guratan tanda yang sering
dilihatnya pada orang-orang yang berharap dan bertekad untuk melihat
pasangan yang berseteru didalam sana kembali berjalan pulang
dengan bergandengan tangan dan binar bahagia.
Ia sudah berkali-kali melihat pasangan yang datang dan pergi
bersama pengacaranya, keluarganya dan bahkan bersama teman-teman
terdekatnya. Mereka yang menggugat dan digugat, mereka yang mengajukan
dan yang menolak, semua sama-sama bertampang sedih dan menyedihkan,
pasrah dan bertekad seolah inilah satu-satunya jalan yang dapat
memberikan kebahagiaan pada akhirnya. Lebih dari satu atau dua orang
datang kembali setelah beberapa bulan kemudian atau beberapa tahun
kemudian, tentu dengan pasangan yang berbeda. Sayangnya, persoalan yang
mereka bawa tetap sama, tangis dan raut itu tetap saja sama untuk
menunggu keputusan yang tidak berbeda.
Ia masih memperhatikan perempuan itu, ia merasakan ada yang
berbeda. Hawa yang berbeda dan aroma yang berbeda, walau ketegangan
yang ada hampir terlihat seperti pemandangan yang sama sebangun.
Biasanya cukup dengan melihat kedatangan orang perorang, siapa
pengacara yang digandengnya dan sedikit bocoran permasalahan yang
dihadapi mereka, ia bisa ikut menebak-nebak apa yang sedang terjadi
diruangan sana. Sayangnya, beberapa hari ini ia izin tidak bertugas pagi,
karena Andi, tetangga yang juga adik iparnya itu demam dan terbaring
tidak berdaya di rumahnya. Ia menggantikannya mengayuh becak di
kompleks dari pagi sampai sore hari. Hanya itu yang bisa dilakukan
untuk menolong tetangganya. Hari ini Andi sudah lebih sehat dan ia
kembali bekerja dipagi hari. Tapi ia telat datang. Senyum dibibirnya
terukir geli mengingat wajah isterinya yang memerah malu saat membawa
toples gula yang kosong kehadapannya. Ia baru saja duduk di teras rumah
setelah bolak-balik mengusung ember berisi air dari sumur bersama yang
ada di sebelah kiri prapatan jalan, 500 meter menuju gang rumahnya
untuk mengisi bak mandi.
”Bang, maaf...gulanya habis,” isterinya meringis
sambil membuka-tutup toples tempat gula. Ia menelan ludahnya yang juga
kering. Pantas di atas meja bersih, tidak ada apa-apa.
”Apa kopi juga habis ?” ia mengelap keringat yang menguarkan aroma tidak sedap dari tubuhnya. Ia belum mandi.
”Tidak. Kopinya ada, tapi tanpa gula. Tidak apa-apa
?” tanya isterinya dengan senyum kecut. Rasanya tidak tega menjamu
suami yang sudah berpayah-payah mengisi bak mandi dengan kopi pahit. Ia
lupa membelinya tadi saat belanja.
”Tidak apa-apa,” toh dikantor juga ada kopi pake
gula yang disediakan gratis, walau tidak seenak bikinan isterinya.
Diletakkan kopi yang sudah diseduh itu di atas meja bersama gorengan
yang masih hangat. Isterinya masih berdiri dengan rikuh. ia menatap
tanya ke arah isterinya.
”Itu...bang, maaf untuk beli gula…”isterinya memang
sangat pemalu untuk minta uang belanja tambahan. Aaah, padahal uang
belanja bulan ini memang lebih banyak kurangnya dibanding bulan lalu.
Ia tersenyum menyeruput sedikit kopi pahit, menjumput sepotong tempe
dan masuk ke dalam rumah. Ia mengambil setandan pisang gepok dan
dipikulnya ringan dibahu.
”Aku jual pisang ini dulu ke Bik Sani, sebentar,”
Bik Sani pemilik warung di depan gang rumahnya. Ia menunggu Bik Sani
datang membuka warung, untuk menjual pisang setandannya. Karena itu ia
terlambat. Walau begitu ia merasa ringan dan bahagia. Ia suka melihat
senyum malu isterinya, ucapan maaf dan tatapan terima kasih yang
diberikan untuknya, seperti tadi pagi. Seperti biasanya, hanya tadi
pagi lebih banyak porsinya. He he he.
Ia melihat perempuan berkerudung kuning bercorak itu
mulai membaca buku kecil. Tidak jelas dari jauh, mungkin Al-Qur`an
seperti milik isterinya yang kini sering dibawanya. Siapa yang ada
didalam sana ? Abangnya ? kakak atau adik perempuannya ? atau
jangan-jangan ibu dan bapaknya ? duh pikiran terakhir itu membuat
dahinya ikut mengernyit tidak senang. Perempuan itu sepertinya berusia
sekitar 30-35-an, jika memang yang didalam itu ibu dan bapaknya, betapa
sudah tidak sabarnya dunia ini sekarang ! Bagaimana mungkin orang sudah
berpuluh-puluh tahun hidup berdua, 30 tahun-an lebih bukan usia yang
pendek untuk sebuah komitmen pernikahan. Beruban, bergigi tidak lengkap
bisa jadi tampilan aseli orangtuanya mau dipoles bagaimanapun usia
tetaplah sudah lebih setengah abad, mengapa masih terpikir untuk
berpisah ? Jika cinta sudah tidak ada, apakah hidup berdua dengan
tanggungjawab saja tidak akan cukup ?* Ia mendesah geram. Pintu dengan
cat cokelat yang pinggir-pinggir bawahnya mulai mengelupas masih
tertutup. Siapa yang sedang saling ingin melepaskan belum keluar dari
sana.
Dua orang anak kecil keluar dari kamar mandi
disamping kiri ruang tempat menunggu. Anak laki-laki berusia sekitar
enam dan empat tahun. Mereka asik berceloteh berdua dan tertawa
menghampiri perempuan itu. Anak yang paling kecil hampir jatuh
tersandung sapu lidi yang gagang kayunya memanjang ke kanan
menonjol dari bawah bangku. Aih...ia lupa menyimpan sapu itu.
Tidak lama berselang dari ruangan itu keluar
laki-laki gagah berjas dan berdasi, tampangnya ramah dan penuh
simpatik. Hmmm, ia tidak mengenalnya, padahal pengacara yang sering
datang ke sini biasanya orang itu-itu juga. Laki-laki itu pengacara ?
oh tentu saja ! ia masih bisa membedakan mana orang yang dibantu dan
mana yang membantu, dibayar dan mana yang membayar. Pengacara itu
menghampiri perempuan berkerudung kuning yang sedang tertawa bersama
kedua anaknya. Ia memberi salam, menyapa santun dibelakangnya berjalan
rikuh seorang laki-laki berwajah bersih dengan mata cahaya. Laki-laki
berkemeja biru tua dengan garis halus membentuk kotak-kotak dalam warna
senada. Kedua anak yang sejak tadi tertawa, bermain dan berceloteh
disekitar perempuan berkerudung kuning itu melonjak gembira begitu
melihatnya dan berlari memeluk kaki laki-laki itu. Mereka tertawa
bersama.
Perempuan itu melihat dengan mata berair tapi
penuh cinta. Apa perempuan itu isterinya ? ia mulai menebak-nebak lagi.
Hampir pasti ! lihatlah laki-laki itu berjalan menghampiri perempuan
itu dan mencium dahinya takzim, membalas ciuman perempuan itu
dipunggung tangannya. Kedua anak yang lucu-lucu itu masih bergelayut
manja diantara keduanya.
Sekali lagi pintu cokelat dibelakang mereka
menjeblak buka. Keluar seorang laki-laki berjas cokelat tua dan berdasi
cokelat bergaris sulur serasi menjajari perempuan berkerudung yang
lain. Serentak pandangan mereka semua bertemu. Laki-laki berjas cokelat
itu tersenyum dan memberi salam. Ia menjabat kedua laki-laki lainnya
dan mengangguk hormat pada perempuan berkerudung kuning bercorak. Tidak
ada yang terkejut melihat kedua anak laki-laki kecil memekik girang,
berlari menyambut perempuan berkerudung lain yang berdiri agak jauh
dibelakang ketiga laki-laki itu. Mereka berebut memeluk dan mencium
pipi kiri dan kanannya. Cahaya mata perempuan itu sendu seperti baru
selesai diamuk badai namun senyum lebar dan tawa riang menerima kecupan
hangat kedua laki-laki kecil itu, penuh cinta.
”Rainisha...!” sebuah panggilan sayup dari parkiran
membuatnya mendongak sadar. Ia melihat orang-orang disekitarnya, tiga
laki-laki dan perempuan berkerudung kuning bercorak seolah menunggunya.
Ia tersenyum sempurna, tidak lama. Luka itu masih basah. Di pisahkan
tubuhnya dengan halus dari kedua laki-laki kecil itu. Berbicara dalam
sayang dan memberikan tanda untuk berpisah. Dulu, ia adalah bagian dari
mereka. Ada mata cahaya yang ikut berkedut basah. Ia mengeluh perih
dalam hati.
Ditatapnya sekali lagi orang-orang didepannya dan ia
pamitan dalam diam. Perempuan berkerudung yang lain itu berlalu bersama
pengacaranya berjas cokelat menuju parkiran. Ia disambut dengan isak
pelan dan pelukan hangat yang segera lenyap dalam mobil.
Pemandangan yang tidak biasa. Sungguh benar-benar tidak biasa !
”Belum istirahat, Vin?” perempuan itu menarik bibirnya –tersenyum, tipis- tanpa mengalihkan wajahnya dari layar komputer.
”Ini aku belikan capcay udang tanpa bakso,” kotak kecil diletakkan di
samping layar komputer menguarkan aroma capcay kesukaannya.
”Thanks,” ujarnya tanpa merasa perlu menengok laki-laki yang telah bersusah payah membawakan makan siang kegemarannya.
”Bagaimana kabar, Nenden ?” laki-laki itu ternyata masih berdiri
dibelakangnya. Pertanyaannya menghentikan tangan perempuan itu menari
diatas keyboard, sejenak seolah tampak ia ingin menjawab namun urung
mendengar suara-suara berisik yang mulai masuk kedalam ruangan. Ia
melirik ke kiri layar komputernya. Jam istirahat sudah selesai,
rupanya.
Terdengar helaan nafas berat dan panjang dari belakang punggungnya. Dan
suara kaki yang diseret menjauh. Laki-laki itu sudah kembali ke mejanya.
”Wah...capcay udang lagi, Vin ?” Rani, - perempuan sunda berusia awal
tigapuluhan yang baru saja menjanda- mengangkat kotak biru muda
berisi capcay hangat yang belum disentuhnya. Perempuan yang dipanggil
Vin, meliriknya sebentar dan kembali serius dengan layar komputernya.
“Kamu mau, Ran ?” ini seperti sudah menjadi kebiasaan. Rani
mengangguk-anggukkan kepalanya walau sadar gerakannya itu tidak dilihat
oleh sipenanya.
”Kamu bukannya sudah makan ?” tanya perempuan itu lagi, kali ini suaranya terdengar menelan senyum.
”Hari Kamis, Vin. Rani hapal jadwal makan kamu, akhir-akhir ini. Jadi
tadi dikantin dia cuma pesan jus sirsak. Tolong dicek sekali lagi, Vin,
laporannya” Frida, ibu muda yang masih terlihat cantik, datang menyela
sambil memberikan tumpukan kertas-kertas yang disebutnya laporan. Rani
tertawa tanpa suara diseberang meja. Ia mulai membuka kotak capcay
udang dengan gumam lapar.
Terdengar bunyi bib samar dari komputernya. Instant message masuk.
Kenapa tidak makan ? kamu puasa ?
Pesan itu ditutup tanpa dibalas.
| |