bintang's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog EntryAku Benci Listrik Mati...!Jun 29, '08 3:22 AM
for everyone
"Din, temanmu sudah lama menunggu di bawah. Cepatlah nak,"mama berteriak sepertinya dari bawah tangga.

Aku mematut-matutkan wajah di cermin, "sebentar lagi ma," balasku dengan teriakan lebih keras. Ini pertemuan penting dan dia harus mendapatkan kesan "lebih cantik dari fotomu' atau paling tidak ia bisa bilang 'aku lebih suka bisa liat yang aseli seperti ini'. uhm...

"Dina...!" uh mama. kebiasaan deh. Aku menyapu bibirku dengan lipgloss, sekali lagi. Semoga tidak ada yang kurang. Aku selempangkan tas imut berwarna cokelat tanah dan bergegas ke bawah.

"pamit ma" aku mencium tangan dan pipi mama. Pura-pura tidak sadar dengan mata mama yang penuh tanda tanya. Dandananku terlalu rapi untuk belajar kelompok? ah tentu tidak. Terlalu cantik. he.he

Helga tersenyum iri melihatku. Yah, ia baru dua hari ini belajar berkenalan dengan banyak orang, bertukar informasi kebiasaan dan kesukaan. Belumlah ia sampai pada levelku. Behubungan hati, bertemu rasa. Helga bisa dibilang masih perlu menempuh banyak hari lagi untuk setingkat denganku saat ini.

Sesampainya kami di Gavier aku membayar account dan menuju meja yang kosong. Helga mengambil meja yang lain.

"Hei! baru datang?" aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Jantungku berdebar-debar.

"Akhirnya aku bisa melihatmu sekarang," aku mengiyakan. Lama. Ada jeda panjang setelah itu. Bunyi halus seperti terompet kecil terdengar dari balik meja. Kenapa ia tidak mengucapkan sesuatu? apakah...

Seseorang mengetuk-ngetuk mejaku. Aku melemparkan pandangan sengit, terganggu.

"Maaf dek, listriknya mati. Kalau ada file yang penting disimpan saja di folder pelanggan. Simpanan energi cadangannya kurang dari tiga menit," aku membelalakkan mata. Ouch!

--------------------------------------------------------
ditulis sambil nunggu angkot, duduk di halte sebelah anak SMP yang baru selesei latihan pramuka...



Blog EntryMerah Muda SenjaDec 16, '07 5:18 AM
for everyone
“Gayalah kita ini, menolak lamaran Pak Tuo Rasyid, ibu. Sudah diangkat-angkat malah kemangkat,” dengus Ratmi berbalas tawa kecil dari sosok yang berdiri di balik kemulan asap kuah hitam dan asap kayu bakar.


Kening Ratmi menggaris kerutan halus diwajahnya yang legam,”apalah lagi yang harus kita enggankah sih, bu ?” ah akhirnya tak tahan jua ia menanyakan alasan itu.


“GOSIP !”


“apa ?!” suara tanya Ratmi tercekat. Bukannya tidak mendengar ucap alasan itu, hanya saja... Ibu Ndaru kalah takut dengan gosip ?


Pelan bibirnya yang cokelat tua dan mulai pecah-pecah, mengulas senyum.

“tenang, bu. Kalu hanya urusan gosip, biar aku yang membereskannya.” bayangan petakannya menjelma gedung, meluahkan lega. Tidak akan lagi masa mengantri panjang hanya sekedar untuk berak dan mencuci. Tidak lah lagi ia mendengar serapah dan hina Ko`chan atau 'Ji Bondan karena menunggak hutang. Si Tegar mungkin bisa sekolah lagi kalau ia mau. Pun sudahlah lama ia tak beli gincu dan bedak kota.

“jadi, kalau gosipnya beres...ibu mau terima lamaran Pak Tuo Rasyid ?”

Helaan berat dan tawa pahit memotong senyumnya.



mykampung, 16.12.07

Blog EntryPahlawan-Pahlawan yang Selalu AdaNov 8, '07 2:09 AM
for everyone
"anak-anak, tahun ajaran ini ada yang beda, " bisik-bisik tidak jelas terdengar seperti sekumpulan lebah yang sedang rapat.

"tahun ini, siapa saja murid kelas 6 boleh menentukan mau lulus atau tidak dari kelas ini, "Ibu Maryam meneruskan kalimat pembuka pertemuan di hari pertama, minggu pertama dengan kelas asuhannya. Segera saja "waaa..." terdengar bersahutan dari bening dan kerlip mata yang duduk melingkar diatas gelaran karpet hijau.

"boleh menentukan bagaimana,bu ?" tanya pemilik sebuah tangan mengacung, setelah permisi untuk menyela. Nisa, si  penyabet ranking I di kelas VA.

"seperti nyoblos nentukan gubernur ya, bu ?" sambar Rudi cepat. disambut gelak tawa teman-temannya.

"Iya mirip nentukan gubernur," jawab Bu Maryam tangkas...Lho ? kok nyambung ya Bu Maryam ?

"Hanya saja...yang jadi calon gubernurnya setiap anak kelas 6, waktu pencalonannya satu tahun dan lawan kita adalah UAN."

"ekhm...bu," Rudi mengacungkan tangan," Bu Maryam menelengkan kepalanya , bertanya -simpatik-

"setahun itu...berarti termasuk liburan ya..?" Ah rudi emang pintar berhitung...

"itu bisa juga kita atur !yang menjadi perhatian adalah kita semua berusaha untuk bisa jadi Gubernur,"

"lho gubernurkan cuma satu, bu" cengir Rudi

"kita menyiapkan Gubernur untuk semua Propinsi," jawab Bu Maryam dengan senyum

"Kita akan berusaha agar  dapat mengalahkan lawan kita, UAN !"

"Caranya ?"

"Kita akan saling bantu,"
horeeee ! kelas meledak riuh....

"Tapi,bu. Bukankah kita tidak boleh mencontek saat ujian ?" tanya Alwi, anak bertubuh paling mungil di kelas 6. Bening-bening mata itu bersinar ingin tahu...

"dalam agama jugakan dilarang untuk main curang, bu,"bisik Arif pelan, seolah tidak ingin ibu guru tersayangnya tersinggung.

Ibu maryam bertepuk satu kali dengan gembira, mulutnya berhias senyum.
"Kita akan saling bantu dari sekarang, bukan untuk berbuat curang -terima kasih Arif- atau mencontek -terima kasih sudah diingatkan Alwi- Kita akan saling bantu untuk sama-sama mencari tahu bagaimana cara belajar yang menyenangkan disetiap pelajaran,"

"Aisyah mungkin bisa berbagi dengan kita bagaimana belajar matematika dengan mudah," Aisya mengangguk dan tersenyum kecil -bangga-

"Dody, bisa bantu temannya yang lain, bagaimana caranya membuat karangan yang enak dibaca,"
"kue kali,bu," sela Rudi. ditanggapi tawa hangat dari Dody.

"untuk tahap pertama, silahkan sekarang kalian menuliskan pelajaran yang kalian sukai. Juga tulis alasan,"
"boleh lebih dari satu, bu" tanya Andika. Ibu Maryam mengiyakan.
"boleh semua pelajaran, bu?"
"Boleh !" Angguk Bu Maryam masih dengan senyum.

Kelaspun sibuk menulis. Hingga bel usai jam sekolah berbunyi. Anak-anak mengeluh panjang-pendek beberapa saat. enggan beranjak dari kertasnya.
tidak terdengar suara Bu Maryam mengeluarkan kata komando pulang, hanya semua sudah tahu, bahwa kini giliran bertemu dengan orangtua.
Anak-anak bersalam-salaman dan berlari dengan gembira.

Catatan Bu Maryam
Rudi : cerdas lingustik




Blog Entry[Flash] KoinMar 11, '07 7:51 AM
for everyone
Koin logam itu memanggilku dengan nyaring. Harapanku yang mana yang akan dikabulkan ?
Bos besar tidak masuk ? atau supervisorku lupa menceramahi keterlambatanku pagi ini ? atau aku mendapatkan promosi jabatan ?

Gegas kulangkahkan kaki.

Aha ! Bos besar tidak masuk ! Aku bernyanyi dan melenggok jempol dangdut dalam hati. Satu !

Supervisorku hanya menggeleng lemah melihatku menarik kursi dan mulai bekerja. Telat tigapuluh menit. Dua !

Apakah tiga harapanku pagi ini terkabul semua ?

Koin kupegang erat dalam saku.

Ada amplop putih bersegel kantor di mejaku. PROMOSI ??? Aku berdebar tegang. Ya, tiga !

Oh, tidak ! Aku dipecat !

NOL !

--------------------------------------------------------------------------------------
@elbintangmaret2007

Blog EntryNyanyian di Rumah Bi HaniJan 30, '07 8:24 PM
for everyone
“Kie, kenapa tadi pagi susah sekali dibangunkan ?” Sadie, menegur Kirey yang sedang sarapan.

“Kie, susah tidur,” jawab Kirey pelan. Dibawah matanya terdapat lingkaran hitam tanda gadis kecil itu kurang tidur.

“Kie, sudah rindu rumah ?” tanya Sadie dengan suara yang juga dipelankan. Kirey menatap wajah kakaknya sejenak kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Selamat pagi anak-anak…bagaimana tidurnya semalam ?” Bibi Hani memeluk kepala Kirey, menciumnya lalu mengelus kepala Sadie dan Bima.

“Enak, Bi Hani. Rasanya kerasan,” ujar Bima sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kirey tanpa terlihat bibinya.

“Nah kalau begitu sarapannya harus sampai kenyang. Makan siang nanti jam satu. Bi Hani harus jaga toko dulu. Nanti pulang sore. Kalian boleh main diperpustakaan atau di halaman belakang. Kalau mau jalan-jalan, ada sepeda di gudang, boleh dipake. Asal kalian hati-hati dan pulang sebelum makan siang, oke ?” Bi Hani mengambil roti tawar sepotong, mengolesnya dengan mentega, meletakkan telur mata sapi, irisan tomat dan sehelai daun selada sebelum menangkupnya dengan sehelai irisan roti yang lain. Tangannya cepat sekali. Bima, Sadie dan Kirey menganggukkan kepala mereka bersamaan, mulut mereka penuh berisi. Bi Hani tersenyum senang melihat anggukan mantap mereka bertiga.

Rumah Bi Hani besar dan terasa sepi. Hanya ada Mak Lian tukang masak yang sibuk di dapur dan Mang Karta yang tidak suka diganggu jika sedang mengolah kebun bunganya.

Bima berencana untuk mengajak Sadie dan Kirey jalan-jalan ke pantai hari ini. Kata Mang Karta di pantai mereka bisa menemukan batu ungu berkilap yang kabarnya adalah batu bertuah.

“Hari ini kita di rumah saja ya ?” pinta Kirey sebelum Bima berbicara. Bima dan Sadie menarik kursinya lebih mendekat ke Kirey.

“Kenapa ?” tanya Bima mata bulatnya menatap heran si adik kecil.

Blog EntryMERANGKAI RUMAH LABA-LABADec 7, '06 10:47 PM
for everyone
Rumah laba-laba. Dibangun di tempat tak tersentuh.
Menjaring sesiapa saja yang tertipu.


“Meja ini kosong ?” Wafa tidak perlu memutar lehernya sembilan puluh derajat untuk melihat sipenanya, karena kaki-kaki panjang milik geek berambut cokelat kemerahan telah berada diseberangnya. Semeja. Sekilas tampak Wafa mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli dan tanpa mengubah posisi duduknya ia kembali menekuni tumpukan buku yang sejak tadi membentot perhatian.

“Hei ! Wafa, kan ? Masih kenal aku ?” geek itu menyapa Wafa tiba-tiba ditengah sepuluh menit jeda kedatangannya. Wafa menaikkan sebelah alis, mengintip teman semeja dari kacamata minus limanya yang sedikit melorot.

“Fred Randolph. Asisten Professor Will Anderson. Kau tergabung di tim kami yang akan ditugaskan ke Xerox Corporation PARC ?” Wafa menegakkan tubuhnya dan melepaskan kacamata minus diatas buku tebal yang tengah terbuka. Palo Alto Research Center, Pusat Riset Xerox tempat legendaris di daerah Silicon Valley, California. Fred Randolph ? memori data diotak Wafa bekerja untuk mengenali sosok geek di depannya. Jeans belel, t-shirt cokelat yang mulai memudar serta kemeja putih lusuh dengan lengan dilipat tigaperempat merupakan penampilan khas teman-temannya di M.I.T. Namun tanda pengenal kecil berupa pena berinisial PARC membuatnya yakin bahwa ia memang sedang berhadapan dengan anggota tim eksklusif yang sangat jarang ditemuinya berkeliaran di taman kampus seperti saat ini.

Wafa spontan melirik komputer genggamnya, adakah pesan penting yang terlewati…


LinkMenulis Cerpen di RanesiOct 21, '06 1:15 AM
for everyone
Link: http://rinurbad.multiply.com/journal/item/668

ada banyak info tulis menulis di blognya teteh yg satu ini...
kalu lagi butuh biasanya bela-belain ngubek2 jurnalnya duluw...
ini dikait deh biar gampang :p


Blog EntryKESAKSIANOct 15, '06 4:23 AM
for everyone

    Perempuan itu menggunakan kerudung kuning bercorak terulur panjang diatas gaun anggunnya berwarna kuning lembut, serasi. Wajahnya terlihat tegang, cemas, sedikit bingung dan kadang-kadang …kosong. Apa ia berada dipihak yang tidak ingin berpisah ? mungkin begitu, karena ekspresi perempuan itu seperti guratan-guratan tanda yang sering dilihatnya pada orang-orang yang berharap dan bertekad untuk melihat pasangan yang berseteru didalam sana kembali berjalan pulang dengan bergandengan tangan dan binar bahagia.

    Ia sudah berkali-kali melihat pasangan yang datang dan pergi bersama pengacaranya, keluarganya dan bahkan bersama teman-teman terdekatnya. Mereka yang menggugat dan digugat, mereka yang mengajukan dan yang menolak, semua sama-sama bertampang sedih dan menyedihkan, pasrah dan bertekad seolah inilah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kebahagiaan pada akhirnya. Lebih dari satu atau dua orang datang kembali setelah beberapa bulan kemudian atau beberapa tahun kemudian, tentu dengan pasangan yang berbeda. Sayangnya, persoalan yang mereka bawa tetap sama, tangis dan raut itu tetap saja sama untuk menunggu keputusan yang tidak berbeda.
   
    Ia masih memperhatikan perempuan itu, ia merasakan ada yang berbeda. Hawa yang berbeda dan aroma yang berbeda, walau ketegangan yang ada hampir terlihat seperti pemandangan yang sama sebangun. Biasanya cukup dengan melihat kedatangan orang perorang, siapa pengacara yang digandengnya dan sedikit bocoran permasalahan yang dihadapi mereka, ia bisa ikut menebak-nebak apa yang sedang terjadi diruangan sana.

    Sayangnya, beberapa hari ini ia izin tidak bertugas pagi, karena Andi, tetangga yang juga adik iparnya itu demam dan terbaring tidak berdaya di rumahnya. Ia menggantikannya mengayuh becak di kompleks dari pagi sampai sore hari. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menolong tetangganya. Hari ini Andi sudah lebih sehat dan ia kembali bekerja dipagi hari. Tapi ia telat datang. Senyum dibibirnya terukir geli mengingat wajah isterinya yang memerah malu saat membawa toples gula yang kosong kehadapannya. Ia baru saja duduk di teras rumah setelah bolak-balik mengusung ember berisi air dari sumur bersama yang ada di sebelah kiri prapatan jalan, 500 meter menuju gang rumahnya untuk mengisi bak mandi.

    ”Bang, maaf...gulanya habis,” isterinya meringis sambil membuka-tutup toples tempat gula. Ia menelan ludahnya yang juga kering. Pantas di atas meja bersih, tidak ada apa-apa.

    ”Apa kopi juga habis ?” ia mengelap keringat yang menguarkan aroma tidak sedap dari tubuhnya. Ia belum mandi.

    ”Tidak. Kopinya ada, tapi tanpa gula. Tidak apa-apa ?” tanya isterinya dengan senyum kecut. Rasanya tidak tega menjamu suami yang sudah berpayah-payah mengisi bak mandi dengan kopi pahit. Ia lupa membelinya tadi saat belanja.

    ”Tidak apa-apa,” toh dikantor juga ada kopi pake gula yang disediakan gratis, walau tidak seenak bikinan isterinya. Diletakkan kopi yang sudah diseduh itu di atas meja bersama gorengan yang masih hangat. Isterinya masih berdiri dengan rikuh. ia menatap tanya ke arah isterinya.

    ”Itu...bang, maaf untuk beli gula…”isterinya memang sangat pemalu untuk minta uang belanja tambahan. Aaah, padahal uang belanja bulan ini memang lebih banyak kurangnya dibanding bulan lalu. Ia tersenyum menyeruput sedikit kopi pahit, menjumput sepotong tempe dan masuk ke dalam rumah. Ia mengambil setandan pisang gepok dan dipikulnya ringan dibahu.

    ”Aku jual pisang ini dulu ke Bik Sani, sebentar,” Bik Sani pemilik warung di depan gang rumahnya. Ia menunggu Bik Sani datang membuka warung, untuk menjual pisang setandannya. Karena itu ia terlambat. Walau begitu ia merasa ringan dan bahagia. Ia suka melihat senyum malu isterinya, ucapan maaf dan tatapan terima kasih yang diberikan untuknya, seperti tadi pagi. Seperti biasanya, hanya tadi pagi lebih banyak porsinya. He he he.

    Ia melihat perempuan berkerudung kuning bercorak itu mulai membaca buku kecil. Tidak jelas dari jauh, mungkin Al-Qur`an seperti milik isterinya yang kini sering dibawanya. Siapa yang ada didalam sana ? Abangnya ? kakak atau adik perempuannya ? atau jangan-jangan ibu dan bapaknya ? duh pikiran terakhir itu membuat dahinya ikut mengernyit tidak senang. Perempuan itu sepertinya berusia sekitar 30-35-an, jika memang yang didalam itu ibu dan bapaknya, betapa sudah tidak sabarnya dunia ini sekarang ! Bagaimana mungkin orang sudah berpuluh-puluh tahun hidup berdua, 30 tahun-an lebih bukan usia yang pendek untuk sebuah komitmen pernikahan. Beruban, bergigi tidak lengkap bisa jadi tampilan aseli orangtuanya mau dipoles bagaimanapun usia tetaplah sudah lebih setengah abad, mengapa masih terpikir untuk berpisah ? Jika cinta sudah tidak ada, apakah hidup berdua dengan tanggungjawab saja tidak akan cukup ?* Ia mendesah geram. Pintu dengan cat cokelat yang pinggir-pinggir bawahnya mulai mengelupas masih tertutup. Siapa yang sedang saling ingin melepaskan belum keluar dari sana.

    Dua orang anak kecil keluar dari kamar mandi disamping kiri ruang tempat menunggu. Anak laki-laki berusia sekitar enam dan empat tahun. Mereka asik berceloteh berdua dan tertawa menghampiri perempuan itu. Anak yang paling kecil hampir jatuh tersandung sapu lidi yang gagang kayunya memanjang ke kanan menonjol dari bawah bangku. Aih...ia lupa menyimpan sapu itu.

    Tidak lama berselang dari ruangan itu keluar laki-laki gagah berjas dan berdasi, tampangnya ramah dan penuh simpatik. Hmmm, ia tidak mengenalnya, padahal pengacara yang sering datang ke sini biasanya orang itu-itu juga. Laki-laki itu pengacara ? oh tentu saja ! ia masih bisa membedakan mana orang yang dibantu dan mana yang membantu, dibayar dan mana yang membayar. Pengacara itu menghampiri perempuan berkerudung kuning yang sedang tertawa bersama kedua anaknya. Ia memberi salam, menyapa santun dibelakangnya berjalan rikuh seorang laki-laki berwajah bersih dengan mata cahaya. Laki-laki berkemeja biru tua dengan garis halus membentuk kotak-kotak dalam warna senada. Kedua anak yang sejak tadi tertawa, bermain dan berceloteh disekitar perempuan berkerudung kuning itu melonjak gembira begitu melihatnya dan berlari memeluk kaki laki-laki itu. Mereka tertawa bersama.

    Perempuan itu melihat dengan mata berair tapi penuh cinta. Apa perempuan itu isterinya ? ia mulai menebak-nebak lagi. Hampir pasti ! lihatlah laki-laki itu berjalan menghampiri perempuan itu dan mencium dahinya takzim, membalas ciuman perempuan itu dipunggung tangannya. Kedua anak yang lucu-lucu itu masih bergelayut manja diantara keduanya.

    Sekali lagi pintu cokelat dibelakang mereka menjeblak buka. Keluar seorang laki-laki berjas cokelat tua dan berdasi cokelat bergaris sulur serasi menjajari perempuan berkerudung yang lain. Serentak pandangan mereka semua bertemu. Laki-laki berjas cokelat itu tersenyum dan memberi salam. Ia menjabat kedua laki-laki lainnya dan mengangguk hormat pada perempuan berkerudung kuning bercorak. Tidak ada yang terkejut melihat kedua anak laki-laki kecil memekik girang, berlari menyambut perempuan berkerudung lain yang berdiri agak jauh dibelakang ketiga laki-laki itu. Mereka berebut memeluk dan mencium pipi kiri dan kanannya. Cahaya mata perempuan itu sendu seperti baru selesai diamuk badai namun senyum lebar dan tawa riang menerima kecupan hangat kedua laki-laki kecil itu, penuh cinta.

    ”Rainisha...!” sebuah panggilan sayup dari parkiran membuatnya mendongak sadar. Ia melihat orang-orang disekitarnya, tiga laki-laki dan perempuan berkerudung kuning bercorak seolah menunggunya. Ia tersenyum sempurna, tidak lama. Luka itu masih basah. Di pisahkan tubuhnya dengan halus dari kedua laki-laki kecil itu. Berbicara dalam sayang dan memberikan tanda untuk berpisah. Dulu, ia adalah bagian dari mereka. Ada mata cahaya yang ikut berkedut basah. Ia mengeluh perih dalam hati.

    Ditatapnya sekali lagi orang-orang didepannya dan ia pamitan dalam diam. Perempuan berkerudung yang lain itu berlalu bersama pengacaranya berjas cokelat menuju parkiran. Ia disambut dengan isak pelan dan pelukan hangat yang segera lenyap dalam mobil.

Pemandangan yang tidak biasa. Sungguh benar-benar tidak biasa !

Blog EntryMendung di Wajah LangitOct 15, '06 12:47 AM
for everyone
”Belum istirahat, Vin?” perempuan itu menarik bibirnya –tersenyum, tipis- tanpa mengalihkan wajahnya dari layar komputer.

”Ini aku belikan capcay udang tanpa bakso,” kotak kecil diletakkan di samping layar komputer menguarkan aroma capcay kesukaannya.

”Thanks,” ujarnya tanpa merasa perlu menengok laki-laki yang telah bersusah payah membawakan makan siang kegemarannya.

”Bagaimana kabar, Nenden ?” laki-laki itu ternyata masih berdiri dibelakangnya. Pertanyaannya menghentikan tangan perempuan itu menari diatas keyboard, sejenak seolah tampak ia ingin menjawab namun urung mendengar suara-suara berisik yang mulai masuk kedalam ruangan. Ia melirik ke kiri layar komputernya. Jam istirahat sudah selesai, rupanya.

Terdengar helaan nafas berat dan panjang dari belakang punggungnya. Dan suara kaki yang diseret menjauh. Laki-laki itu sudah kembali ke mejanya.

”Wah...capcay udang lagi, Vin ?” Rani, - perempuan sunda berusia awal tigapuluhan yang baru saja menjanda-  mengangkat kotak biru muda berisi capcay hangat yang belum disentuhnya. Perempuan yang dipanggil Vin, meliriknya sebentar dan kembali serius dengan layar komputernya.

“Kamu mau, Ran ?” ini seperti sudah menjadi kebiasaan. Rani mengangguk-anggukkan kepalanya walau sadar gerakannya itu tidak dilihat oleh sipenanya.

”Kamu bukannya sudah makan ?” tanya perempuan itu lagi, kali ini suaranya terdengar menelan senyum.

”Hari Kamis, Vin. Rani hapal jadwal makan kamu, akhir-akhir ini. Jadi tadi dikantin dia cuma pesan jus sirsak. Tolong dicek sekali lagi, Vin, laporannya” Frida, ibu muda yang masih terlihat cantik, datang menyela sambil memberikan tumpukan kertas-kertas yang disebutnya laporan. Rani tertawa tanpa suara diseberang meja. Ia mulai membuka kotak capcay udang dengan gumam lapar.

Terdengar bunyi bib samar dari komputernya. Instant message masuk.
Kenapa tidak makan ? kamu puasa ?

Pesan itu ditutup tanpa dibalas.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help