bintang's posts with tag: anak
"jika hidup bukan tua dan muda. maka bersiap adalah niscaya. kecuali ...
PERGI
seperti khayal serasa ada masih menjejak bau tangis tawa pun senyum seperti khayal terakan tiada mengganti sepi kami tangis pun lengah hanya janji tinggalkan alamat menuju akhir kabut menggegap langkah tertatih menjurai kenangan malam ramai siang berderai pagi terbahak tiada sepi kami cinta pun jaga hanya janji lengkapkan hati menuju akhir pasti! ------------------------------------------------------------------ Duka cita yang dalam atas kehilangan putra Bang Dino Umahuk (birahilaut) yang bernama Maulana Alfi Syahri di usia 7 bulan 7 hari di RSU Zainal Abidin Banda Aceh, Ahad 4 Mei 2008 pukul 20.15 WIB
"anak-anak, tahun ajaran ini ada yang beda, " bisik-bisik tidak jelas terdengar seperti sekumpulan lebah yang sedang rapat.
"tahun ini, siapa saja murid kelas 6 boleh menentukan mau lulus atau tidak dari kelas ini, "Ibu Maryam meneruskan kalimat pembuka pertemuan di hari pertama, minggu pertama dengan kelas asuhannya. Segera saja "waaa..." terdengar bersahutan dari bening dan kerlip mata yang duduk melingkar diatas gelaran karpet hijau.
"boleh menentukan bagaimana,bu ?" tanya pemilik sebuah tangan mengacung, setelah permisi untuk menyela. Nisa, si penyabet ranking I di kelas VA.
"seperti nyoblos nentukan gubernur ya, bu ?" sambar Rudi cepat. disambut gelak tawa teman-temannya.
"Iya mirip nentukan gubernur," jawab Bu Maryam tangkas...Lho ? kok nyambung ya Bu Maryam ?
"Hanya saja...yang jadi calon gubernurnya setiap anak kelas 6, waktu pencalonannya satu tahun dan lawan kita adalah UAN."
"ekhm...bu," Rudi mengacungkan tangan," Bu Maryam menelengkan kepalanya , bertanya -simpatik-
"setahun itu...berarti termasuk liburan ya..?" Ah rudi emang pintar berhitung...
"itu bisa juga kita atur !yang menjadi perhatian adalah kita semua berusaha untuk bisa jadi Gubernur,"
"lho gubernurkan cuma satu, bu" cengir Rudi
"kita menyiapkan Gubernur untuk semua Propinsi," jawab Bu Maryam dengan senyum
"Kita akan berusaha agar dapat mengalahkan lawan kita, UAN !"
"Caranya ?"
"Kita akan saling bantu," horeeee ! kelas meledak riuh....
"Tapi,bu. Bukankah kita tidak boleh mencontek saat ujian ?" tanya Alwi, anak bertubuh paling mungil di kelas 6. Bening-bening mata itu bersinar ingin tahu...
"dalam agama jugakan dilarang untuk main curang, bu,"bisik Arif pelan, seolah tidak ingin ibu guru tersayangnya tersinggung.
Ibu maryam bertepuk satu kali dengan gembira, mulutnya berhias senyum. "Kita akan saling bantu dari sekarang, bukan untuk berbuat curang -terima kasih Arif- atau mencontek -terima kasih sudah diingatkan Alwi- Kita akan saling bantu untuk sama-sama mencari tahu bagaimana cara belajar yang menyenangkan disetiap pelajaran,"
"Aisyah mungkin bisa berbagi dengan kita bagaimana belajar matematika dengan mudah," Aisya mengangguk dan tersenyum kecil -bangga-
"Dody, bisa bantu temannya yang lain, bagaimana caranya membuat karangan yang enak dibaca," "kue kali,bu," sela Rudi. ditanggapi tawa hangat dari Dody.
"untuk tahap pertama, silahkan sekarang kalian menuliskan pelajaran yang kalian sukai. Juga tulis alasan," "boleh lebih dari satu, bu" tanya Andika. Ibu Maryam mengiyakan. "boleh semua pelajaran, bu?" "Boleh !" Angguk Bu Maryam masih dengan senyum.
Kelaspun sibuk menulis. Hingga bel usai jam sekolah berbunyi. Anak-anak mengeluh panjang-pendek beberapa saat. enggan beranjak dari kertasnya. tidak terdengar suara Bu Maryam mengeluarkan kata komando pulang, hanya semua sudah tahu, bahwa kini giliran bertemu dengan orangtua. Anak-anak bersalam-salaman dan berlari dengan gembira.
Catatan Bu Maryam Rudi : cerdas lingustik
Anak-anak setelah usia cukup untuk belajar ditantang untuk bertahan hidup dalam suasana menjemukan yang bernama "SEKOLAH" -terima kasih untuk sekolah yang menggembirakan-
Sebut saja PR yang menggunung, pelajaran menyalin (hah !menyalin !) olahraga bersamainstruksi militer yang sangar, melelahkan dan sungguh sangat tidak menyegarkan, pelajaran matematika yang 'sengaja' dibikin rumit dengan hardikan, cubitan (aih...masih ada ?), dan pelototan guru (yang tidak becus mengajar :p) plus pelajaran agama yang membosankan, juga IPS, Sejarah dan hapalan Sains, phew !
Tapi, ada saja anak pejuang sejati -ehm banyak- mereka adalah kepala-kepala yang tetap tertawa gembira, mengambil jeda kapan saja untuk bermain dan menggemukkan otak, akal, kalbu, pikir, raga dan rasanya, secara mandiri.
Mereka yang saat kembali ke rumah disapa dengan ucap semangat dan kehangatan bahagia tanpa cela dari orangtuanya, sahabat sejati mereka
"Bila pendidikan tidak menunjukkan kepada anak, jalan yang lurus dan tidak menjadikannya kuat, teguh dan mahir, ia lebih baik meninggalkan pendidikan dan menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain dan bersenang-senang"
"Jika kau amati anakmu dengan seksama ketika dia pulang sekolah, padahal dia sudah bersekolah 15 tahun atau lebih, tidak kaudapati orang yang pengalamannya lebih sedikit dan karakternya lebih kering daripada anakmu. keadaannya sekembali dari sekolah tidak layak dan tidak berguna. Yang ia peroleh dari sekolah hanyalah rasa bangga yang memuakkan, budaya yang menjijikkan dan kesombongan akan pengetahuannya yang tidak membawa manfaat yang besar"
[MONTINI]
"Tidak ada waktu bermain-main lagi !"
UAN merambah sekolah dasar. Jadilah ratusan (ribuan ?) guru memasang wajah tegang. Jam-jam tambahanuntuk melatih soal-soal digelar ramai dan ketat.
Kepala DIKNAS daerah mewantiwanti DIKNAS kecamatan Kepala Diknas Kecamatan mengingat-ingatkan setiap Kepala Sekolah. Para Kepala Sekolah berkerut pikir disetiap akhir pekan dalam rapat guru. Guru-guru panik dan kebanyakan terdeteksi mengalami gejala penyakit jantung, mengejar ketertinggalan pelajaran yang sangat banyak.
Setiap apel pagi anak-anak kelas 6 diawas-awasi dengan ketat untuk BELAJAR membuka buku & mengerjakan soal ! Tidak ada waktu lagi untuk bermain-main !
Pada tiap-tiap upacara bendera, murid-murid kelas 1-5 ramai menggerutu dan mencemberuti kakak kelasnya "penyebab panjangnya wejangan 'pembina upacara'.
sekolah jadi menjemukan bagi kelas 6, bukan berarti kemarin-kemarin sekolah itu asik, tapi tanpa wejangan dan pengawasan ketat dari guru...bolehlah...-
dan lihatlah si Udin. si 'troublemaker' itu kini tidak lagi menuai bentakan dan bilah penggaris dari gurunya. Sekarang Udin lebih sering terlihat mengantuk atau melamun disudut kelas. Lesu dan tak bergairah. Kabarnya ia sering begadang di rumah. Belajar ? Oh tentu tidak [tidak ! jika kegiatan belajar diartikan dengan membuka buku pelajaran, menghapal atau menjawab soal-soal]
Udin begadang karena ia mengalami phobia tidur. Bukan insomnia ! Udin sih mengantuk...hanya ia berusaha untuk tidak tidur. Ibu dan bapaknya sudah capek untuk mengajaknya tidur dengan berbagai cara. Pernah sekali, ibunya memaksa Udin menelan obat tidur.dan... BERHASIL ! Udin tertidur... tapi belum juga jam 3 pagi Udin sudah berteriak-teriak dalam tidurnya, hingga terpaksa dia dibangunkan kembali. Udin menangis dan tidak mau tidur lagi... untuk selamanya !!! demikian sedunya... setelah lama ia berhenti menangis.. ia bercerita... dalam tidurnya akhir-akhir ini ia selalu bermimpi... mimpi yang buruk sekali... SPIDERMAN mati terbunuh... sungguh menakutkan... seramnya lebih daripada film-film dan buku-buku yang ia baca... sungguh...benar-benar menakutkan... apalagi musuhnya bernama... UAN ---------------------------- Berapa banyak Udin ditengah kita ?
"bunda, manda mau mengejar bunda..." teriak salsa melengking di kelas. Aku bertahan tidak menengok ke arah datangnya suara. di depanku, wajah kecil bulat dengan mata elangnya menatap tajam menungguku bereaksi. kernyit diantara dua alisnya menandakan ia mulai terganggu. "Nabil, ayo dilanjutkan, nak," usikku pelan. Tanpa berkedip ia kembali menekuni buku soal dan sibuk berhitung dengan sempoa. "bunda ichaaa, manda benar-benar ke sana lho," kali ini suara Bunda Atik lebih tinggi dari biasanya. Panik ! dengan berat hati (karena tidak sesuai dengan rencanaku semula) akhirnya perhatian kualihkan ke sosok manis berkepang dua yang merayap ke arahku. Liurnya menetes banyak sekali. Anak-anak yang lain membolakan matanya kearahku. "manda mau belajar dengan bunda Icha..." ujarnya dengan senyum bangga. "manda mau belajar dilantai ?" tanyaku masih mencoba mengoreksi skenario "mandiri" yang telah kususun sebelumnya. "tidak !" liurnya menetes membasahi kemeja dan sebagian rambutnya. mataku sejajar dengan matanya yang indah...[ah manda...] "terus ? manda mau belajar dimeja ?"tanyaku lagi. ia mengangguk. tersenyum. "kalau begitu, coba naik ke kursi sendiri, bisa ?" mengangguk lagi. BRAK ! cresssss..manik-manik sempoa berwarna orange berjatuhan, terpisah dari kerangkanya. "NABIL NGGAK MAU BELAJAR !!!" Bunda Ulin di dekatnya terlonjak. anak-anak yang lain berseru kaget dan protes melihat sempoa rusak, dilemparkan Nabil. "Bundaaa, Tio dan Axcel berantem !" "huwaaaaaaaa !!!" disudut yang lain Didit dan Vael serius menirukan smackdown. Liur manda masih menetes. Ia sudah duduk rapih diatas kursinya Bunda Rara meringis kewalahan melerai Tio dan Axcel. Bunda Atik menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menawan Didit yang masih berniat mengk.o kan Vael... "Tepuk Siap !" "YAP ! ... buka mata krek-krek, buka telinga kre-krek, goyangkan jempol, goyangkan jari, terbang melayang, tinggi melayang...jatuh dipangkuan. SIAP ! kelas sementara tenang... Nabil masih ngambek wajah Tio masih memerah tangis Axcel masih bersisa air mata Vael mencangkung sedih diatas bangkunya Didit masih tertawan dipelukan Bunda Atik "bunda icha, bunda icha..."colek sebuah tangan kecil "saya benar tidak mengerjakannya ?"tanya bola mata kejora itu sambil memperlihatkan buku latihannya. "NAbilll !" terikan Tio membuka kembali tirai panggung... jam belajar belum usai...  --------------------------------------------------------------- tak pernah membuat bosan. Anak.
Seorang gadis, belum remaja, memohon... dalam isakan yang kuat-kuat ditahan, semoga gelap kan cepat datang, agar ia dapat kembali pulang.
Tiap hari ia melinting kertas mengubah kuku jarinya kusam dan keras Tak mengapa, itu tak berarti apa-apa tak mengapa itu tidak berarti tak apa-apa
hanya sanggup pada bayang mata ia gapai-gapai kata tolong jauhkan tangan-tangan berkeringat yang menjalanya di kamar mandi atau di gudang kosong saat istirahat atau alasan pura-pura sang binatang bertampang manusia
seorang gadis, belum remaja terus memohon airmatanya menjelma darah keluar dari celah kedua kakinya
----------------------------------------------------- ...
“Kie, kenapa tadi pagi susah sekali dibangunkan ?” Sadie, menegur Kirey yang sedang sarapan.
“Kie, susah tidur,” jawab Kirey pelan. Dibawah matanya terdapat lingkaran hitam tanda gadis kecil itu kurang tidur. “Kie, sudah rindu rumah ?” tanya Sadie dengan suara yang juga dipelankan. Kirey menatap wajah kakaknya sejenak kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Selamat pagi anak-anak…bagaimana tidurnya semalam ?” Bibi Hani memeluk kepala Kirey, menciumnya lalu mengelus kepala Sadie dan Bima.
“Enak, Bi Hani. Rasanya kerasan,” ujar Bima sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kirey tanpa terlihat bibinya.
“Nah kalau begitu sarapannya harus sampai kenyang. Makan siang nanti jam satu. Bi Hani harus jaga toko dulu. Nanti pulang sore. Kalian boleh main diperpustakaan atau di halaman belakang. Kalau mau jalan-jalan, ada sepeda di gudang, boleh dipake. Asal kalian hati-hati dan pulang sebelum makan siang, oke ?” Bi Hani mengambil roti tawar sepotong, mengolesnya dengan mentega, meletakkan telur mata sapi, irisan tomat dan sehelai daun selada sebelum menangkupnya dengan sehelai irisan roti yang lain. Tangannya cepat sekali. Bima, Sadie dan Kirey menganggukkan kepala mereka bersamaan, mulut mereka penuh berisi. Bi Hani tersenyum senang melihat anggukan mantap mereka bertiga.
Rumah Bi Hani besar dan terasa sepi. Hanya ada Mak Lian tukang masak yang sibuk di dapur dan Mang Karta yang tidak suka diganggu jika sedang mengolah kebun bunganya.
Bima berencana untuk mengajak Sadie dan Kirey jalan-jalan ke pantai hari ini. Kata Mang Karta di pantai mereka bisa menemukan batu ungu berkilap yang kabarnya adalah batu bertuah.
“Hari ini kita di rumah saja ya ?” pinta Kirey sebelum Bima berbicara. Bima dan Sadie menarik kursinya lebih mendekat ke Kirey.
“Kenapa ?” tanya Bima mata bulatnya menatap heran si adik kecil.
| |