sampai saat ini saya berpikir bahwa bahasa dan emosi, bahasa dan etika,
bahasa dan kepedulian, bahasa dan hati, saling berhubungan...
karenanya, saya sering terganggu dengan istilah-istilah yang menurut saya mereduksi arti dan mengaburkan nilainya..
sebut saja beberapa dibawah ini
1. pemerintah mendapatkan pinjaman lunak dari ..., glekh... kenapa tidak disebut pemerintah berhutang kepada ...
2. PSK, pekerja sex komersial. Haaah ??? coba sebut saja dengan
pelacur, sundal atau lonte. jadinya dua sisi. yang mendatangi dan
didatangi sebutannya ya sundal ! ya pelacur... kalu PSK kesannya yg
datang itu...majikan ? bos ? client ? phffff
3. Korupsi, hayaaah.. tolong deh ! panggil aja pencuri !
4. Remaja....maap2 saja bagi para pakar psikologi, tapi kategori
ini bikin orang jadi manja, labil dan 'ngeles'. Giliran dikasih
tanggung jawab, katanya ' kan gue masih remaja, masih anak2 getu
lhoooo", giliran nggak dikasih kepercayaan, "hei ! whats up, mom ! aku
kan sudah gede, sudah remaja nih !' arrrrggggghhh...udah coba
bikin kategori anak2, pemuda, ortu...bukannya anak2, remaja, dewasa,
ortu...
5. apa lagi ?
------------------------------------
bukannya tidak suka dengan perkembangan bahasa, lho
 | Itulah salah satu fungsi bahasa --> menghaluskan. Meskipun tidak semua, tak kira hal tersebut masih diperlukan. |
 | rabwa wrote on Jun 11, '06 |
 | rabwa wrote on Jun 11, '06 Ehm, salam kenal ya, dari sesama Arek Malang..:-) |
 | indonesia memang terkenal suka dengan eufimisme....atau penghalusan bahasa....... |
 | mo tanya kamu seneng kan dengan perkataan N perlakuan yang halus...? |
 | Mba bintang wina sependapat dengan mba neh, |
 | eufimisme...penghalusan bahasa.. "eh..mari disantap, ini hidangan alakadarnya" padahal yg tersedia segala lauk, segala sayur, segala buah, segala pencuci mulut. dan yg diajak makan... si orang tak berpunya yg belum pernah lihat macam aneka lauk semewah itu... merendah atau merendah ??? he he he :-) |
 | mending istilah yang jelek untuk jelek tetep......, hihihi..., biar mereka gak mau di sebut jelek... |
 | iyup...pelacur koq pekerja sex komersial ...kalu pekerja, kena pajak penghasilan dunk... eh ato jangan2 emang kena pajak yagh ?
|
 | ehza wrote on Aug 21, '06 berbicara bahasa sangatlah luas. coba kita merujuk pada disiplin ilmu logika, semantik. di sana digambarkan bagaimana kita harus menggunakan bahasa secara implisit, explisit, analog dan lain lain. kapan kita harus berbicara kasar, kapan kita menggunakan perkataan halus dan kapan kita harus menggunakan kata sindiran.
Pada prakteknya, sehari-hari tanpa sadar kita tidak bisa lepas dari yang namanya disiplin ilmu ini. diakui maupun tidak memang itulah kenyataannya. sering kali terdengar kata-kata orang di sekeliling kita ataupun kita sendiri seperti : "makanlah, kalau pengen perutmu sakit", "sebaiknya kamu memaafkan dia" atau "sebenarnya konflik itu nggak baik".
yang menjadi pertanyaan; mengapa tidak dikatakan "jangan makan!!!", "maafkan aja" atau "jangan konflik"? nah, itulah fungsi bahasa, sehingga akan memberikan nilai sastra yang amat tinggi seperti yang dimiliki al-Qur'an, yang 14 abad yang lalu telah memberikan bukti untuk itu. thank. |
 | elbintang wrote on Aug 21, '06, edited on Aug 21, '06 tengkiyu komentnya, bang... tapi... kalu bahasa kita poles sanah poles sinih.. bisa2 artinya jadi halus banget... padahal untuk sesuatu yg salah...baiknya kata2nya kudu sesuai... ------------------------------------------ masak pelacur dipoles jadi PSK :p
itu baru salah satu contoh...blom lagi ngutang negara dibilang diberikan pinjaman...heks ?
|
 | ehza wrote on Aug 22, '06, edited on Aug 22, '06 berbicara disiplin ilmu logika semantik memang terkesan penuh dengan polesan. Namun kalimat yang mbak contohkan sebenarnya tidak ada kesalahan sama sekali, karena "Pelacur" sama halnya "PSK" (Pekerja Sex Komersial) sedangkan "Hutang" samahalnya "Pinjaman". Thank. |
 | angguk-angguk ----------------------- oui...lihatnya dari semantik ya, bang -----------------------
|
 | Pemerintah. Sebut saja sebagai penguasa, bukan pemerintah alias tukang perintah. Kalau bahasa Mr. Blair adalah government dari kata to govern yang artinya mengatur (dalam konteks negara). Jauh banget, dari mengatur seharusnya menjadi pengatur, eh malah jadi pemerintah alias tukang merintah!
Sebut saja penguasa. Misalnya: Pemerintah DKI Jakarta menjadi Penguasa DKI Jakarta. Pemerintah Indonesia menjadi Penguasa Indonesia. Toh, fungsi mereka bukan mengatur melainkan menguasai. Contoh:
- Bukan mengatur Sumber minyak bumi melainkan menguasai sumber minyak bumi untuk dibagi-bagi ke Exxon atau Lapindo Brantas. - Bukan mengatur Air melainkan menguasai air untuk dibagi-bagi ke pengusana AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) - Bukan mengatur Partai Politik melainkan menguasai Partai Politik agar semuanya memiliki ideologi yang sama.
[Serius amat ya?] |
 | serius banget bang... ---------------- tapi serius emang tugasnya yang liat pemerintah, kan ? ======== we must do our job, properly *kek.nggak.ada.bahasa.indonesia-nya.yaks*
:p |
 | PSK = Pekerja Seks Komersial, berarti ada PSNK = Pekerja Seks Non Komersial alias geratisan (opo tumon?)
Minuman keras = khamr = minuman beralkohol = minuman beralkohol 0%
|
 | Itu perlu untuk beberapa hal, namun untuk yang di atas aku setuju. |
 | ya... beda lagi kalu yg dimaksud etika bahasa *ke yg tua, muda, orang sakit, orang yg marah dlsb* |
 | berbudi bahasa halus itu sunah rosul. itu yg menjadikan kita muslim. |
 | analogi yang bagus..!!! sayang gue telat bacanya... |
 | he.he.he alhamdulillah sempet dibaca :-) ----------------------------------- terima kasih udah mampir. |
 | pengusaha wanita! kalo pengusaha mobil kan usahanya jual-beli mobil. pengusaha tempe, jual-beli tempe. pengusaha wanita?!
eh, nggak ding. yang ini salah pengertian kali ya...
tapi aku setuju sama 4 yang di atas. yang remaja, hmmm... apa nggak anak-anak (balita, batita) diganti bocah aja? |
| |