Blog EntryKompetensi GuruMay 20, '06 5:04 AM
for everyone
Tahunnya saya lupa,
1999, 2000 atau...? di daerah saya terjadi perombakan besar-besaran. apa pasal ?
Kompetensi Guru !

puluhan hingga ratusan lulusan ilmu keguruan yang berada di kantor diknas, pemda dan lainnya di alihkan ke sekolah-sekolah.
guru-guru memiliki latar belakang pendidikan yg tidak sama dengan yg bidang studi yg diajarkan terpaksa harus beralih walaupun sudah mengajar bertahun-tahun...

apa itu kompetensi ?
guru-guru yg pernah mengajar saya fisika dan matematika di smp beralih mengajar ekonomi dan sejarah yang seumur-umur selama mengajar tidak pernah mereka sentuh...
padahal...guru-guru itu sangat gape mengajar fisika dan math walau bukan lulusan fisika atau math...

mama termasuk salah satu guru matematika yang harus mengajar ekonomi karena beliau lulusan sarjana ekonomi. Tertatih-tatih mama belajar lagi, membeli buku ekonomi dan mengingat-ingat istilah ekonomi...
"tidak enak," kata mama waktu aku bertanya apa enak mengajar ekonomi.
lebih enak mana sama jadi kepala sekolah smu ? tanyaku membandingkan, mama sempat ditawari untuk mengepalai salah satu Smu negeri.
"lebi enak ngajar matematika," ujar mama sambil tertawa...

entah mengapa perubahan pendidikan nasional selalu diadakan massal dan mengenelarisir semua wilayah. padahal setiap daerah pasti punya kekhas-an dan setiap sekolah -walaupun negeri- juga punya kelebihan dan kekurangannya. entah itu SDM atau sarana penunjang
seperti SMP saya, sangat kurang berprestasi di bidang Fisika, labnyapun gak layak...tapi sering juara dibid bio, math, seni dan olahraga...juga Pramuka ! :p

Kompetensi itu membuat beberapa guru SMP saya mandul
Pak Jefri, Pak Wahab, Bu Martha, dan mama adalah 4 orang dari sekian guru matematika yg beralih profesi menjadi guru sejarah =Pak Wahab, Guru Olahraga = Pak Jefri, Guru agama = Bu Martha, dan mama guru ekonomi.
birokrat tidak pernah tahu kalau ibu martha pernah mendapatkan 3 x guru matematika terbaik (rank 2)  di tingkat daerah, mama sering mewakili propinsi sebagai  penerjemah terbaik logika matematika untuk anak SMP , Pak Wahab selalu menjadi pujaan anak-anak diSMP saya kerna enak ngajar matematikanya dan Pak Jefri, guru matematika yang punya seribu satu cara membuat matematika lebih menyenangkan...
haaah !!!

apa selembar ijazah sarjana itu begitu tokcer dibanding pengalaman mereka-mereka yang telah membuat anak-anak didik lebih bersemangat belajar ?

padahal selama bertahun-tahun mengajar matematika, fisika atau bidang studi lainnya, guru-guru di SMP saya tidak pernah berhenti ikut seminar pengajaran, kolokium, workshop dan pelatihan2 guru pemantapan bidang studi yg mereka ajarkan, tanpa mengeluh.

Kompetensi guru...apa yang sudah didapat setelah itu dalam jangka lima tahun terakhir ini ?
----------------------------------------------------------
sebuah refleksi sewindu reformasi




hady82 wrote on May 20, '06
Oke, get point-nya adalah :
Kompetensi --> sebatas pada ijazah, akhirnya ya spt yg mbak bintang sebutkan diatas.

Padahal kalo kita mengacu makna dari 'kompetensi' itu sendiri adalah seberapa jauh seseorang mengusai ilmi/pelajaran di bidangnya. Lah kalo lulusan matematika malah disruh ngajar ekonomi --> aneh.

Bapak2 pejabat? gimana tuh..!
aren69 wrote on May 20, '06
di daerah mana tuh mbak... di malang ya? aneh ya yang bikin keputusan... kayaknya kompetensi guru lebih cocok diuji dengan ujian sertifikasi sesuai bidang yang diajarnya saat ini , bukan terbatas pada ijazah masa lalu
enniarief wrote on May 20, '06
Ini mungkin maksud dan tujuannya adalah untuk fleksibeliteit (bhs. Indonesianya apa ya...??) arti sederhananya, yaitu agar lebih all-round. Seperti halnya di Belanda juga ada perombakan dalam sistem pendidikan. Misalnya, tenaga akhli dari perusahaan menjadi pengajar bahkan Kepala Sekolah. Aneh tapi nyata.
Dulu ber-puluh2 tahun y.l. sewaktu saya masih menduduki SMA Pariwisata & Perhotelan yang mana sekolah tsb. merupakan proyek dari Departemen Perhubungan & Pariwisata. Juga pengajar2nya bukan lulusan atau sarjana IKIP (saya tidak tahu nih istilah barunya apa...). Kemudian pengajar2 bahasa Asing (Inggeris, Jerman, Perancis dan Belanda) juga bukan sarjana Akhli Bahasa, melainkan mantan DUBES atau Atase. Namun hasilnya, justru telah memberi keberhasilan pada sekolah tsb.
Semoga perubahan pendidikan memberikan dampak yang positief, juga penyegaran untuk para pengajar. Ini do'a saya dari Negeri Seberang.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help