
di rumahnya ada tape merk Sony yang kutahu ia miliki sejak sebelum
menikah. Tapi tak pernah kudengar ia menyetel satu kaset bahkan murratl
sekalipun disana.
"tapenya
rusak ?" tidak, jawabnya. Padahal ia, perempuan yang kukenal besar
dengan musik dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dulu...dulu banget.
"kalau butuh musik..tinggal request saja," ujarnya sambil menyimpan senyum.
tidak berapa lama kudengar suara musik mengalun dari rumah tetangga yang dindingnya berjarak kurang dari dua meter.
"kalo pagi, musiknya enak untuk olahraga," terangnya pas betul dengan kerasnya suara musik yang memyambar telingaku.
wah kalau saja tadi saya mutar nasyid kesayangan bisa-bisa dikira orang
toko kaset ya... (maklum jalan dan rumah juga tidak terlalu jauh)
dilemarinya
tidak lagi kutemukan pakaian yang berjejer indah sesuai urutan bulan.
Padahal, ia hampir tidak pernah menggunakan baju yang sama pada
undangan pesta yang didatanginya. dulu...begitu aku mengenalnya dulu...
kini hanya ada tumpukan baju yang beberapa...kok lebih bagus punyaku (cat. itu berati jauh dari std...gk pernah terjadi :p)
Saat ia
tiba dirumah, dalam kondisi teramat letih, tak kutemukan tampang kusut
dan cemberut yang menggambar rautnya, seperti yang ku akrabi dulu, dulu
banget.
Ia kudapati hangat, penuh energy cinta yang tak berhenti.
Ia berhenti dari dosen kemudian menggagas dan membangun sekolah dari nol
saat itu gaji para guru diambil dari iuran anggota yayasan setiap bulannya dengan bunga kata-kata yang memerahkan telinga.
kini TKIT itu memilikki tiga cabang dan tahun ini telah mebuka SDIT dibawah pimpinannya.
Gaji guru ? sudah tidak jadi masalah besar (tapi tetap saja masih jadi masalah :p)
ia yang turun dari rumah bak istana, yang di asuh bak puteri
ia yang pergi menjadi isteri bagi seorang duda beranak dua yang menjelang remaja
ia yang melahirkan anak pertama dengan perasaan was-was karena biaya rumahsakit yang sangat besar
ia yang terus tersenyum pada keluarga besar kami
yang selalu menilai dengan pangkat dan materi
ia yang membuka satu-persatu hati para sepupu, om dan tante
untuk memahami liukan Islam (dengan ijin Allah)
ia yang
begitu kuat melahirkan dua buah cinta, melengkapi cintanya yang telah
meremaja dengan cesar dan tekad akan terus melahirkan (jika dijinkan
Allah)
ia yang
terus percaya padaku dan (lucunya) sering menatapku dengan matabulatnya
seolah takjub. (saat ditatap begitu aku merasa menjadi orang paling
bahagia dimuka bumi)
ia yang menemukan cinta pada suaminya saat keguguran calon anak pertama (lama juga ya ?)
ia yang berlari dalam tangis dan terbang menujuku saat aku terbaring dirumah sakit
ia...pelita hatiku,mutiaraku, guruku dan sosok hebat yang selalu berada dihatiku.
my sista : I LOVE U / sudahkah aku kirimkan hari ini ?/ cintaku padamu yang seluas langit
(yang seluas samuderanya besok saja...dicicil :p)

 | What a beautiful sister. Ceritanya sangat menyentuh Mbak Bintang... thank you. |
 | yupe...mbak Ari..thx to Allah to bring her to our family. I love her so ... eips...mbak Ari manggil aku 'mbak' xixixi :p |
 | hayaaah...mbak ajaaaa... kan saya mau disayang :p |
 | Romantisme bersaudara neee... Menyentuh banget dik bintang, moga selamanya romantis terussss ya.... Amin.. |
Comment deleted at the request of the author.
 | iyyyah... :-) aamiien... terimakasih sudah mampir mbak tari... |
 | thanks for sharing. nice story. met kenal ya mbak.... |
 | met kenal juga, mbak ... :-) |
| |
|