Blog EntryJadi Pegawai Negeri Dong...Apr 26, '06 9:07 AM
for everyone
Hampir setiap yang berhubungan dengan Indonesia -tanah airku tercinta- mengeluhkan pungutan liar yang tidak tanggung-tanggung untuk semua hal administrasi. Dari yang hal-hal kecil sampe yang gueeeduee...Lagi tidak tanggung-tanggung , pungutan liar berganti nama dengan 'uang administrasi', 'uang lelah', 'uang pelicin', dll membuat seolah-olah tidak liar lagi.

Konon teman saya yang pernah ikut sarjana pendampingan-program Pak Harto jadul-menyebutkan bahwa penyakit tukang tilep itu mewabah hingga ke pelosok desa yang paling pelosok. Ceritanya waktu itu ia memeriksa catatan anggota koperasi di salah satu dusun terpencil nun dilembah bukit, ternyata ia mendapati banyak anggota-anggota fiktif alias masih balita bahkan ada yang baru berumur satu minggu tercatat jadi anggota. Dan mereka tercatat sebagai anggota aktif yang melakukan pinjaman ke koperasi. Artinya ? ada dana koperasi yang mengucur ke kantong-kantong atas nama anggota fiktif itu. Lari kemana ? itu yang membuat teman saya 'sakit gigi' karena baik pengawas koperasi yang digaji -pegawai negeri- dan pengurus koperasi, kongkalingkong membiarkan hal itu terus berlangsung.


Belum lagi cerita susahnya mengurus KTP dan sejenisnya (jadi ingat KTP Indonesia yang saya bikin di Bogor sampe hari ini tidak ada kabarnya padahal sudah bayar 50-an ribu..dan baru tahu kalau seharusnya gak semahal itu..
)
Itu baru hal-hal yang kecil. Bagaimana lagi, proses mau jadi pegawai negeri, tender proyek jalan layang, tender kotak suara PEMILU, de el el, de es be, de es te.

Kernanya ada pemikiran yang menjadi perhatian yang lebih.

KITA HARUS ADA DI SETIAP LEVEL BIROKRAT
oya ?
O...YE !!!

dari tukang sapu gedung sampai yang punya wewenang di gedung itu

dari yang bikin sekolah sampe yang memimpin sekolah
dari yang masuk jadi pegawai negeri sampe yang berwenang untuk menempatkan pegawai negeri
dari ...

sudah nangkap kan maksud saya ?


Jadi.. ???


Level berkorban para da'i dan da'iyah (semua mereka yang mengimani Islam - lisan,kalbu,gerak-) tidak lagi dengan menjauhi pos-pos pemerintahan yang dikhawatirkan membuat apa yang kita konsumsi menjadi mubah. Saat ini para aktifis dakwah sedang mengalami apa yang dialami oleh Nabi Yusuf dijamannya.


Jika amanah di berikan pada yang tidak berhak maka akan menjadi fitnah, artinya
Jika amanah di jauhi oleh yang berhak maka tunggulah kehancurannya.

Kernanya...

...
Jadi pegawai negeri dong...!



Comment deleted at the request of the thread owner.
agustianwar wrote on May 1, '06
Sangat setuju dengan pendapatnya. Dulu, di awal 1990an ketika masih mahasiswa, saya lontarkan pikiran yang sama pada teman-teman. Yang harus mengisi birokrasi itu mesti orang baik-baik, agar perubahan ke arah yang baik dapat dilakukan dari dalam. Ini termasuk untuk tentara, polisi dan birokrasi. Kalau karena gentar dengan lingkungan negatif di birokrasi lantas membuat kita menghindar, sama sekali tidak akan memperbaiki masalah, justru memperburuknya.Perlu lebih banyak orang-orang istiqamah dalam pemerintahan agar dapat berjalan baik. Kalau maling yang berada di birokrasi, sudah pasti bakat itu akan semakin diperkuat. Ini harus disadari secara luas oleh semua kita. Sakam, Anwar.

elbintang wrote on May 3, '06
iya..terjun menjadi pegawai negeri saat ini bukan untuk mencari tempat berlindung dihari tua, lebih dari itu...jauh lebih besar dari itu...
eh ya termasuk Polisi, TNI, ...
ayo jadi provokator sodara2 yang lain, Pak. Salam kembali.
peranita wrote on Dec 13, '07
tapi yang sering malah ikut arus..jadi ikutan nilep hehehe
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help