kura-kura tanpa tipu juarai lomba lari bagaimana bisa? bisanya bagaimana? singa, monyet, ular, serigala pun harimau, murka hanya satu yang terduduk-duduk biasa, ; babi hukum rimba diguncang-guncang satu-satu coba dalih kurang-kurang bagaimana sekarang? sekarang bagaimana? berembug urun taji dari awal sampai hasil dikaji marmut memekik lengking "kamu! itu makan taik?" Pelaku nyengir tak berdosa. biasa ; babi Harus apa? Apa harus? semua bertanya-tanya Sang hakim, raja langit bijak laksana bertitah "panggil kura-kura" Rusa kalah lomba, berlari terpincang-pincang sebelum sampai, maklumat tiba : kura-kura telah mati sang juara. Hukum Rimba kembali tegak semua bubar. "ayo kamu! kembali pulanglah!" pelaku hanya menyeringai ia berak dulu ; babi ah...
"Din, temanmu sudah lama menunggu di bawah. Cepatlah nak,"mama berteriak sepertinya dari bawah tangga.
Aku mematut-matutkan wajah di cermin, "sebentar lagi ma," balasku dengan teriakan lebih keras. Ini pertemuan penting dan dia harus mendapatkan kesan "lebih cantik dari fotomu' atau paling tidak ia bisa bilang 'aku lebih suka bisa liat yang aseli seperti ini'. uhm...
"Dina...!" uh mama. kebiasaan deh. Aku menyapu bibirku dengan lipgloss, sekali lagi. Semoga tidak ada yang kurang. Aku selempangkan tas imut berwarna cokelat tanah dan bergegas ke bawah.
"pamit ma" aku mencium tangan dan pipi mama. Pura-pura tidak sadar dengan mata mama yang penuh tanda tanya. Dandananku terlalu rapi untuk belajar kelompok? ah tentu tidak. Terlalu cantik. he.he
Helga tersenyum iri melihatku. Yah, ia baru dua hari ini belajar berkenalan dengan banyak orang, bertukar informasi kebiasaan dan kesukaan. Belumlah ia sampai pada levelku. Behubungan hati, bertemu rasa. Helga bisa dibilang masih perlu menempuh banyak hari lagi untuk setingkat denganku saat ini.
Sesampainya kami di Gavier aku membayar account dan menuju meja yang kosong. Helga mengambil meja yang lain.
"Hei! baru datang?" aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Jantungku berdebar-debar.
"Akhirnya aku bisa melihatmu sekarang," aku mengiyakan. Lama. Ada jeda panjang setelah itu. Bunyi halus seperti terompet kecil terdengar dari balik meja. Kenapa ia tidak mengucapkan sesuatu? apakah...
Seseorang mengetuk-ngetuk mejaku. Aku melemparkan pandangan sengit, terganggu.
"Maaf dek, listriknya mati. Kalau ada file yang penting disimpan saja di folder pelanggan. Simpanan energi cadangannya kurang dari tiga menit," aku membelalakkan mata. Ouch!
-------------------------------------------------------- ditulis sambil nunggu angkot, duduk di halte sebelah anak SMP yang baru selesei latihan pramuka...
Jadi, para suami... jika isterinya ada kegiatan berkemah, silahkan didukung! disupport, dibantu... ya..ya memang... saya sendiri kalau pulang ke rumah dan tidak mendapati isteri, saya seperti... sebuah kapal yang ditinggalkan pelabuhan...
*para suami tertawa, mengangguk-anggukan kepala* *para isteri, tersenyum...tersanjung? :D*
*saduran dari pertemuan dgn Ust. Tifatul Sembiring*
 | Lapor! | Jun 9, '08 1:15 AM for everyone |
cuplik dari kejadian di MUTU :
# apel pagi : Lapor kelompok delapan jumlah 10 orang, hadir 6 orang, ijin 4 orang, 3 menyusui dan 1 piket tenda ...
# dari megaphone panitia: "ibu melahirkan kurang dari tiga minggu dilarang ikut flying fox!
seruw...haruw
"jika hidup bukan tua dan muda. maka bersiap adalah niscaya. kecuali ...
PERGI
seperti khayal serasa ada masih menjejak bau tangis tawa pun senyum seperti khayal terakan tiada mengganti sepi kami tangis pun lengah hanya janji tinggalkan alamat menuju akhir kabut menggegap langkah tertatih menjurai kenangan malam ramai siang berderai pagi terbahak tiada sepi kami cinta pun jaga hanya janji lengkapkan hati menuju akhir pasti! ------------------------------------------------------------------ Duka cita yang dalam atas kehilangan putra Bang Dino Umahuk (birahilaut) yang bernama Maulana Alfi Syahri di usia 7 bulan 7 hari di RSU Zainal Abidin Banda Aceh, Ahad 4 Mei 2008 pukul 20.15 WIB
Rangkailah kata dari rahim sendiri jelma rupamu ada, berdiri susah, jelas! jika tak bersabar apalagi malas berkobar-kobar ditambah sanjung puji popular Kamu! bahkan bayang, malu, menyingkir tak serta akan simbol pemikir yang nyata hanya pelintir huh! bermalu diri lah pada cermin letakkan tanda si pegiat rupanya hanya plagiat ------------------------------------------- muak membaca berita plagiat dan pembajakan # tulisan tetralogi Andrea Hirata "Maryamah Karpov" yang sudah beredar padahal aselinya baru akan launching September *info sastrabelitong.multiply.com* # artikel Pak Romi Satria Wahono yang di plagiat oleh 'akademisi'# tulisan Putu Wijaya dan seorang pujangga barat yang diaku karya sendiri # mengingat crita yang sama sebangun kang Deni Baonk *malaikat dan iblisnya*, mas Agung Mbot *pengokot*, Mbak Helvy Tiana Rosa * Mc Allister* , pak Agus Anwar dan lain yang masih bererot lagi. ------------------------------------------------- mencuri jadi budaya!sikat!
 | Janji! | Apr 23, '08 5:56 AM for everyone |
Pagi-pagi sekali begitu kita paut janji
ku kira itu sungguh-sungguh cepat gegas ku melepas subuh
bayang datang tengah hari tak ku sua mata dan hati ------------------------------- apakah pemda a.k.a LLAJR mengubah rutemu?
Saafilahaa tampak seperti bumi di abad 31, begitu selalu para tua-tua mengenang, saat melihat Saafil hari ke dua setelah bulan biru selesai. Langit terlihat lebih kuning dan cerah. Satu hari setelah bulan biru selesai, kehidupan baru tampak bagi setiap mata memandang. Hijaunya pepohonan dengan pucuk-pucuk daun baru yang menggeliat bangun, segarnya rumput-rumput bertahtakan bulir air, ramainya kicau Burung Mlikut-produksi paling digemari dari walyah V sec Yesod. Semuanya menjanjikan nyanyian suci dari alam. Membuat hidup seperti terberkati, berarti. Memiliki tujuan. Benarkah bumi seperti ini? Ah ya! Mungkin seperti ini jika tidak ada ambang, mosch, ley-ley dan lostruh. Juga tanpa orang-orang seperti dirinya. Neuralscahntech. [w. syams ie w. dluh. h. w. lqmar ie idz. t. lah. w. nnah.r i idz. jallah.] Siapa? Kreszha mengejar neural yang menyusup di triune miliknya. Siapa kau yang menggunakan bahasa temu bumi? Hening. Bahkan jejak penindai impuls halus tidak bergetar. Engsh! Umpat Kreszha kesal. Ini kali kedua ada yang menyusup saat meta-kesadarannya diaktifkan. Benarkah ada penyusup? atau ada yang salah dengan dirinya? Kreszha berjalan cepat menuju bangku taman. Basah dijejeri embun. Kreszha duduk dan melakukan gerakan yang tidak pernah dilakukannya lagi dalam lima tahun terakhir ini. Kakinya disilangkan, menjulur ke depan dengan santai. Badannya membungkuk, tangan kanannya menyentuh ujung kaki kanan dan tangan kirinya menyentuh ujung kaki kiri. Jika ada orang dewasa yang melihat posisi Kreszha, pasti ada laporan yang masuk ke walyah III sec kesehatan dan diteruskan ke walyah XIV sec kehancuran. Sang kematian. Kreszha bisa dijemput untuk dieksekusi. Posisi yang dilakukan Kreszha hanya lazim dilakukan oleh manusia berusia lima hingga toleransi tujuh tahun yang mengalami kelainan pada fungsi otak. Selainnya berarti rusak. Hexadrenalin Kreszha menderas mengeluarkan dehydroepiandrosterone. Dalam seribu lima ratus tigapuluh detik neurotrasmitter dopamin Kreszha memasuki bagian hingga yang paling dalam dan gelap pada segala-setiap-semua makhluk yang memiliki neural. Berjuta-juta informasi, niat, harapan, mimpi, nafsu, emosi, citra, warna, gerak, bentuk, setiap sisi yang ditangkap neural bergelombang memasuki ingatannya. Dimana kau? Siapa? Hening. Amigdalanya bergetar sangat halus. Ada sinyal bahaya dari udara di sekitarnya. Hentikan Neuralscahntech Safier! Laisa emez! Lobus prefrontal Kreszha menyala. Kreszha menegakkan badannya dalam posisi normal. Laie! Otaknya mencela hanya lebih cepat sepersekian detik dari sesuatu yang melayang dan mengenai pelipisnya. Tepat! Sakit sekali! Kreszha memerlukan kerjapan mata untuk menikmati emosinya. “Kreszha!” lengking bening itu terdengar dari arah datangnya 'sesuatu' yang kini tergeletak manis tidak jauh dari kakinya. Sebuah lumy lempar! Benda berbentuk bulat pipih terbuat dari alumunium campuran yang cukup berat dan digunakan dalam permainan ketangkasan ambang dan tanah. “Kreszha! Benar kau ya, yang di sana?” Kreszha dapat merasakan aliran kecemasan yang hebat dari pusat-pusat emosi anak itu. Penderita sinkieinhibitadle! [oh tidak! double L mengenai Kreszha? Kibo kumohon, tidak! Jangan Kreszha. Tidak hari ini. Ough! tidak hari ini! tidak selamanya!] Kreszha mendengarkan dengan jelas teriakan-teriakan yang dibahasakan sepanjang fisura sylvia, sebelum melihat sosoknya. Xen. Pemegang kartu keter, berusia sembilan tahun itu akhirnya terlihat melompat dari ambang dan membuat salto sempurna dua kali sebelum menginjak tanah. Tanpa mengurangi kecepatannya ia menghambur ke arah Kreszha. “Kreszha...” “Ya?” “umm...”Xen kehilangan sesuatu. Persepsi kejadian. Kreszha tersenyum. 'Kau mengejar lumy lemparmu'. Mata Xen menemukan lumy lemparnya. “Ah ya! Aku mencari ini,” seru Xen dengan canggung. [Sepertinya tadi aku cemas sekali. Teriakanku sampai bisa membuat batok kepalaku pecah. Teriak? Apa aku berteriak tadi? Sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting] “Apa kau tidak lupa, punya janji bertemu dengan ayah dan ibuku, nanti malam?” potong Kreszha membantu lobus prefrontal Xen. “Wah! Tidak! Tentu aku tidak lupa, Kreszha. Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai tamu, nanti malam,” Xen menjabat tangan Kreszha dan mengguncangnya. Terlalu kuat. Kreszha mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sopan. “Nanti malam pasti hebat, Kreszha!” mata Xen melebar. 'Ah! apa komposisi BDItF Xen perlu dikoreksi? Xen terlalu cepat terpasung emosi berlebihan' “Aku pasti datang nanti malam! Hebat!” arus gembira meledak-ledak. Kreszha mengeluarkan tawa lepas keras yang aneh. Efektif membebaskan Xen dari cengkaman liar amigdala. “Xen!” teriakan dari ambang bersahutan ramai. Sepertinya teman-teman Xen. “Kreszha! Benar kau ya, yang di sana?” ah pertanyaan seperti itu ternyata sedang trend di kalangan muda Saafil. Xen melambaikan tangan pada mereka dan meminta untuk bersabar sambil menunjukkan lumy lempar yang dipegangnya. Setelah menggumamkan pamit pada Kreszha, Xen berlari kencang dengan posisi tubuh mengambil ancang-ancang melenting ke arah ambang, mengejar lumy lempar yang telah ia lesatkan lebih dulu. “kau tahu Kreszha, aku senang menjadi temanmu...!” lengking Xen dari ambang yang digemakan sama oleh teman-temannya. 'ya. uhm, maaf telah memotong beberapa neurotransmittermu, teman' Tatap Kreszha pada ambang dengan kilat iri. Sejenak. Perlahan, ia melangkahkan kakinya keluar dari walyah XIII sec hunian menuju rutinitasnya di teleflashcomn walyah VII. Kreszha menutup dan menonaktifkan meta kesadarannya. ----------------------------------------- tentu bersambung :-) ------------------------------------------
sorry kalu tulisan ini naik terus di tayangkan (diganti-ganti setting private-contacs-network), lagi rareot nie kompie tapi dijadikan ajang belajar anak-anak. maapkan. mohon?
jadi orang yang suka begaya, emang bikin susah diri! Menjadi (semacam) guru memang menyenangkan  , lebih lagi kalu kita dibolehkan untuk membuat keputusan-keputusan yang sangat longgar untuk penggunaan handbooknya.  dikarenakan pengajaran matematika, sains dan bahasa inggris untuk usia dini sangat tidak bersesuaian dengan kemampuan cara mengajar saya yang dibawah standart,  maka dengan berbahagia saya mau banged bikin buku panduan belajar (untuk murid) dan panduan mengajar (untuk kelas guru). semester kemaren, lakon itu berjalan lancar dan dimudahkan, alhamdulillah.  semester ini, harapannya juga demikian. Apalagi kelas untuk para guru bertambah.  Namun, seperti hubungan sebab akibat yg berlaku. Draft buku untuk semester ini yang harusnya tinggal diprint, diperbanyak dan dijilid, PYONG! hilang bersama virus.... Phiuh!...  jadi harus tulis, mengumpulkan literatur, dan menyusunnya lagi...  *sayangnya beberapa teks lagu bikin sendiri yg blum diapal juga ikut ke apus  ---------------------------------- Ku pinta ampunan ya Rabb... 
“Gayalah kita ini, menolak lamaran Pak Tuo Rasyid, ibu. Sudah diangkat-angkat malah kemangkat,” dengus Ratmi berbalas tawa kecil dari sosok yang berdiri di balik kemulan asap kuah hitam dan asap kayu bakar. Kening Ratmi menggaris kerutan halus diwajahnya yang legam,”apalah lagi yang harus kita enggankah sih, bu ?” ah akhirnya tak tahan jua ia menanyakan alasan itu. “GOSIP !” “apa ?!” suara tanya Ratmi tercekat. Bukannya tidak mendengar ucap alasan itu, hanya saja... Ibu Ndaru kalah takut dengan gosip ? Pelan bibirnya yang cokelat tua dan mulai pecah-pecah, mengulas senyum. “tenang, bu. Kalu hanya urusan gosip, biar aku yang membereskannya.” bayangan petakannya menjelma gedung, meluahkan lega. Tidak akan lagi masa mengantri panjang hanya sekedar untuk berak dan mencuci. Tidak lah lagi ia mendengar serapah dan hina Ko`chan atau 'Ji Bondan karena menunggak hutang. Si Tegar mungkin bisa sekolah lagi kalau ia mau. Pun sudahlah lama ia tak beli gincu dan bedak kota. “jadi, kalau gosipnya beres...ibu mau terima lamaran Pak Tuo Rasyid ?” Helaan berat dan tawa pahit memotong senyumnya.
mykampung, 16.12.07
Terima Kasih
sujudku mengembara pada puji dan celoteh manusia mencacah bumi menombak langit masih jua Kau beri kesempatan
ikhlasku mengapung pada derma dan darma dunia menggelar lupa membusung alpa masih jua Kau letakkan masa
kupalingkan wajah Kau berikan cermin keindahan kuhentikan langkah Kau rentangkan cinta kuteriakkan penolakan Kau letakkan kasih hingga ku menuju Kau limpahkan bahagia ... Terima kasih... ---------------------------------------------------------------- dan nikmat Tuhammu yang manakah yang layak kau dustakan ?
"bunda...," jejak-jejak kaki menghambur menuju. dengan sigap tubuh besar itu membungkuk, jongkok, merengkuh gemintang-gemintang yang bersinar. Larik kenanganpun menyergap haru... Aku menjelma kanak, menjemput senyum dan sapa cinta Bu Asma yang selalu terentang lebar merengkuh kami dalam peluk selamat datang dan salam pulang. Setiap. Selama kami berada.
Ibu Asma,cinta... terima kasih adalah cermin cintamu yang membekaliku dengan rasa hangat ini.
Ya Rabb, terimalah amalan-amalan baiknya, ampuni dosa-dosanya dan lapangkanlah kuburannya. pertemukan kami dalam sebaik-baiknya pertemuan. Amien ------------------------------------------------------------------------------- mengingat wali kelas 1 SD
pertanyaan itu muncul dari Dini, tamu 'belum' MP melihat kedekatan dan kebaikan hati Nicco yang dengan penuh cinta -cieeeh- mengantarkan Dini dan Bumil ke seantero Gorontalo saat kali pertama jumpa... emang kayak apa sih MP ? begitu kira-kira pertanyaan selanjutnya yang kemudian dijawab dengan menceritakan segepok kisah plus kasih  MP ... sambil tukar dan koment tentang hal ihwal mpers...dalam otak saya berputar ujaran...sayang sekali naisbitt tidak ketemu MPers Indonesia saat menulis buku high tech-high touch"nya jika saja bertemu..ia akan menemukan dahsyatnya high touch karena high tech  ada beberapa id yang turut tersebut dalam obrolan kami saat makan malam itu...ada banyak. sekedar untuk mencomot kisah-kisah yang mewakili karakter id mpers... - uni wirda dengan CAB-nya - kang cepy dengan ustadz gaulnya - menhariq yang tersambungkan dengan mas Agung (Mbot) kerna crita duka yang super kocak ituw, de el-el de el el intinya.... saat Dini bertanya...trus gimana caranya bikin MP ? Done ! virus itupun menyebar..heuheuheu... ----------------------------------------------------- big love 2 bumil and Dini
"anak-anak, tahun ajaran ini ada yang beda, " bisik-bisik tidak jelas terdengar seperti sekumpulan lebah yang sedang rapat.
"tahun ini, siapa saja murid kelas 6 boleh menentukan mau lulus atau tidak dari kelas ini, "Ibu Maryam meneruskan kalimat pembuka pertemuan di hari pertama, minggu pertama dengan kelas asuhannya. Segera saja "waaa..." terdengar bersahutan dari bening dan kerlip mata yang duduk melingkar diatas gelaran karpet hijau.
"boleh menentukan bagaimana,bu ?" tanya pemilik sebuah tangan mengacung, setelah permisi untuk menyela. Nisa, si penyabet ranking I di kelas VA.
"seperti nyoblos nentukan gubernur ya, bu ?" sambar Rudi cepat. disambut gelak tawa teman-temannya.
"Iya mirip nentukan gubernur," jawab Bu Maryam tangkas...Lho ? kok nyambung ya Bu Maryam ?
"Hanya saja...yang jadi calon gubernurnya setiap anak kelas 6, waktu pencalonannya satu tahun dan lawan kita adalah UAN."
"ekhm...bu," Rudi mengacungkan tangan," Bu Maryam menelengkan kepalanya , bertanya -simpatik-
"setahun itu...berarti termasuk liburan ya..?" Ah rudi emang pintar berhitung...
"itu bisa juga kita atur !yang menjadi perhatian adalah kita semua berusaha untuk bisa jadi Gubernur,"
"lho gubernurkan cuma satu, bu" cengir Rudi
"kita menyiapkan Gubernur untuk semua Propinsi," jawab Bu Maryam dengan senyum
"Kita akan berusaha agar dapat mengalahkan lawan kita, UAN !"
"Caranya ?"
"Kita akan saling bantu," horeeee ! kelas meledak riuh....
"Tapi,bu. Bukankah kita tidak boleh mencontek saat ujian ?" tanya Alwi, anak bertubuh paling mungil di kelas 6. Bening-bening mata itu bersinar ingin tahu...
"dalam agama jugakan dilarang untuk main curang, bu,"bisik Arif pelan, seolah tidak ingin ibu guru tersayangnya tersinggung.
Ibu maryam bertepuk satu kali dengan gembira, mulutnya berhias senyum. "Kita akan saling bantu dari sekarang, bukan untuk berbuat curang -terima kasih Arif- atau mencontek -terima kasih sudah diingatkan Alwi- Kita akan saling bantu untuk sama-sama mencari tahu bagaimana cara belajar yang menyenangkan disetiap pelajaran,"
"Aisyah mungkin bisa berbagi dengan kita bagaimana belajar matematika dengan mudah," Aisya mengangguk dan tersenyum kecil -bangga-
"Dody, bisa bantu temannya yang lain, bagaimana caranya membuat karangan yang enak dibaca," "kue kali,bu," sela Rudi. ditanggapi tawa hangat dari Dody.
"untuk tahap pertama, silahkan sekarang kalian menuliskan pelajaran yang kalian sukai. Juga tulis alasan," "boleh lebih dari satu, bu" tanya Andika. Ibu Maryam mengiyakan. "boleh semua pelajaran, bu?" "Boleh !" Angguk Bu Maryam masih dengan senyum.
Kelaspun sibuk menulis. Hingga bel usai jam sekolah berbunyi. Anak-anak mengeluh panjang-pendek beberapa saat. enggan beranjak dari kertasnya. tidak terdengar suara Bu Maryam mengeluarkan kata komando pulang, hanya semua sudah tahu, bahwa kini giliran bertemu dengan orangtua. Anak-anak bersalam-salaman dan berlari dengan gembira.
Catatan Bu Maryam Rudi : cerdas lingustik
Anak-anak setelah usia cukup untuk belajar ditantang untuk bertahan hidup dalam suasana menjemukan yang bernama "SEKOLAH" -terima kasih untuk sekolah yang menggembirakan-
Sebut saja PR yang menggunung, pelajaran menyalin (hah !menyalin !) olahraga bersamainstruksi militer yang sangar, melelahkan dan sungguh sangat tidak menyegarkan, pelajaran matematika yang 'sengaja' dibikin rumit dengan hardikan, cubitan (aih...masih ada ?), dan pelototan guru (yang tidak becus mengajar :p) plus pelajaran agama yang membosankan, juga IPS, Sejarah dan hapalan Sains, phew !
Tapi, ada saja anak pejuang sejati -ehm banyak- mereka adalah kepala-kepala yang tetap tertawa gembira, mengambil jeda kapan saja untuk bermain dan menggemukkan otak, akal, kalbu, pikir, raga dan rasanya, secara mandiri.
Mereka yang saat kembali ke rumah disapa dengan ucap semangat dan kehangatan bahagia tanpa cela dari orangtuanya, sahabat sejati mereka
"Bila pendidikan tidak menunjukkan kepada anak, jalan yang lurus dan tidak menjadikannya kuat, teguh dan mahir, ia lebih baik meninggalkan pendidikan dan menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain dan bersenang-senang"
"Jika kau amati anakmu dengan seksama ketika dia pulang sekolah, padahal dia sudah bersekolah 15 tahun atau lebih, tidak kaudapati orang yang pengalamannya lebih sedikit dan karakternya lebih kering daripada anakmu. keadaannya sekembali dari sekolah tidak layak dan tidak berguna. Yang ia peroleh dari sekolah hanyalah rasa bangga yang memuakkan, budaya yang menjijikkan dan kesombongan akan pengetahuannya yang tidak membawa manfaat yang besar"
[MONTINI]
"Tidak ada waktu bermain-main lagi !"
UAN merambah sekolah dasar. Jadilah ratusan (ribuan ?) guru memasang wajah tegang. Jam-jam tambahanuntuk melatih soal-soal digelar ramai dan ketat.
Kepala DIKNAS daerah mewantiwanti DIKNAS kecamatan Kepala Diknas Kecamatan mengingat-ingatkan setiap Kepala Sekolah. Para Kepala Sekolah berkerut pikir disetiap akhir pekan dalam rapat guru. Guru-guru panik dan kebanyakan terdeteksi mengalami gejala penyakit jantung, mengejar ketertinggalan pelajaran yang sangat banyak.
Setiap apel pagi anak-anak kelas 6 diawas-awasi dengan ketat untuk BELAJAR membuka buku & mengerjakan soal ! Tidak ada waktu lagi untuk bermain-main !
Pada tiap-tiap upacara bendera, murid-murid kelas 1-5 ramai menggerutu dan mencemberuti kakak kelasnya "penyebab panjangnya wejangan 'pembina upacara'.
sekolah jadi menjemukan bagi kelas 6, bukan berarti kemarin-kemarin sekolah itu asik, tapi tanpa wejangan dan pengawasan ketat dari guru...bolehlah...-
dan lihatlah si Udin. si 'troublemaker' itu kini tidak lagi menuai bentakan dan bilah penggaris dari gurunya. Sekarang Udin lebih sering terlihat mengantuk atau melamun disudut kelas. Lesu dan tak bergairah. Kabarnya ia sering begadang di rumah. Belajar ? Oh tentu tidak [tidak ! jika kegiatan belajar diartikan dengan membuka buku pelajaran, menghapal atau menjawab soal-soal]
Udin begadang karena ia mengalami phobia tidur. Bukan insomnia ! Udin sih mengantuk...hanya ia berusaha untuk tidak tidur. Ibu dan bapaknya sudah capek untuk mengajaknya tidur dengan berbagai cara. Pernah sekali, ibunya memaksa Udin menelan obat tidur.dan... BERHASIL ! Udin tertidur... tapi belum juga jam 3 pagi Udin sudah berteriak-teriak dalam tidurnya, hingga terpaksa dia dibangunkan kembali. Udin menangis dan tidak mau tidur lagi... untuk selamanya !!! demikian sedunya... setelah lama ia berhenti menangis.. ia bercerita... dalam tidurnya akhir-akhir ini ia selalu bermimpi... mimpi yang buruk sekali... SPIDERMAN mati terbunuh... sungguh menakutkan... seramnya lebih daripada film-film dan buku-buku yang ia baca... sungguh...benar-benar menakutkan... apalagi musuhnya bernama... UAN ---------------------------- Berapa banyak Udin ditengah kita ?
He he he sekali lagi ada kiriman. Kali ini parcel cinta dari Jeng Vie rada njelimet kerna kudu milah-milih dulu *lagi kenapa cuma 8 siiiyyy... he he he
beginilah kira-kira adanya delapan ituw :
- SKSD. Tadinya mo saya tulis "kepede-an" tapi itu hanya salah satu penyebab 'penyakit SKSD' ini. salah dua dan salah berikutnya juga ada. :p.
- Senang Menjajal. Jajal apa saja. Waktu SD saya pernah daftar dipengajian yang katanya khusus untuk orang kompleks, -dakuw bukan orang kompleks situ- ah tapi ketrima juga ding
. Pernah juga iseng ikut lomba MTQ khusus warga kepolisian -padahal sa'keluarga besarpun tak ada yg ambil upah jadi polisi- boleh harapan 1. Sekarang, sudah se-udzur kek gini juga masih senang jajal2an. - Ngemil. Terlebih Kacang dalam bentuk apasaja bisa jadi pengganti makan berat
- Masak, suka juga. Lebih nyaman kalu sendiri, bisa berekspresi dengan segala jenis bumbu tanpa harus berkewajiban menjawab 'eyyy mengapa begitu, mengapa begini..
- belum dibuang kalu belum rusak. Segala baju, kaos, sepatu, sendal yang saya pake, sayang bener kalu belum rusak banget untuk gak di pake. kernanya selalu ada orang-orang disekitar saya yang berinisiatif untuk membuang dan menghilangkan barang-barang itu dari pandangan saya.
- Cuek. eh harusnya ini bertolak belakang dengan nomer 1 ya ? tapi begitulah, kalu dibutuhkan 'penyakit' ini selalu tepat datangnya :-)
- Senang banget memberi nama panggilan sayang ke orang lain. Lebih seneng lagi kalu nama itu diterima sebagai tanda cinta juga. heuheuheu...
- Autis
kalu lagi baca buku atau sedang corat-coret saya bisa lupa kejadian di sekitarnya. Kalu perlu bicara dengan saya saat demikian, kudu ditowel duluw...
yaks demikian 8 dari saya...mohon maaf saya belum sempat menghadiahkannya ke orang lain
"bunda, manda mau mengejar bunda..." teriak salsa melengking di kelas. Aku bertahan tidak menengok ke arah datangnya suara. di depanku, wajah kecil bulat dengan mata elangnya menatap tajam menungguku bereaksi. kernyit diantara dua alisnya menandakan ia mulai terganggu. "Nabil, ayo dilanjutkan, nak," usikku pelan. Tanpa berkedip ia kembali menekuni buku soal dan sibuk berhitung dengan sempoa. "bunda ichaaa, manda benar-benar ke sana lho," kali ini suara Bunda Atik lebih tinggi dari biasanya. Panik ! dengan berat hati (karena tidak sesuai dengan rencanaku semula) akhirnya perhatian kualihkan ke sosok manis berkepang dua yang merayap ke arahku. Liurnya menetes banyak sekali. Anak-anak yang lain membolakan matanya kearahku. "manda mau belajar dengan bunda Icha..." ujarnya dengan senyum bangga. "manda mau belajar dilantai ?" tanyaku masih mencoba mengoreksi skenario "mandiri" yang telah kususun sebelumnya. "tidak !" liurnya menetes membasahi kemeja dan sebagian rambutnya. mataku sejajar dengan matanya yang indah...[ah manda...] "terus ? manda mau belajar dimeja ?"tanyaku lagi. ia mengangguk. tersenyum. "kalau begitu, coba naik ke kursi sendiri, bisa ?" mengangguk lagi. BRAK ! cresssss..manik-manik sempoa berwarna orange berjatuhan, terpisah dari kerangkanya. "NABIL NGGAK MAU BELAJAR !!!" Bunda Ulin di dekatnya terlonjak. anak-anak yang lain berseru kaget dan protes melihat sempoa rusak, dilemparkan Nabil. "Bundaaa, Tio dan Axcel berantem !" "huwaaaaaaaa !!!" disudut yang lain Didit dan Vael serius menirukan smackdown. Liur manda masih menetes. Ia sudah duduk rapih diatas kursinya Bunda Rara meringis kewalahan melerai Tio dan Axcel. Bunda Atik menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menawan Didit yang masih berniat mengk.o kan Vael... "Tepuk Siap !" "YAP ! ... buka mata krek-krek, buka telinga kre-krek, goyangkan jempol, goyangkan jari, terbang melayang, tinggi melayang...jatuh dipangkuan. SIAP ! kelas sementara tenang... Nabil masih ngambek wajah Tio masih memerah tangis Axcel masih bersisa air mata Vael mencangkung sedih diatas bangkunya Didit masih tertawan dipelukan Bunda Atik "bunda icha, bunda icha..."colek sebuah tangan kecil "saya benar tidak mengerjakannya ?"tanya bola mata kejora itu sambil memperlihatkan buku latihannya. "NAbilll !" terikan Tio membuka kembali tirai panggung... jam belajar belum usai...  --------------------------------------------------------------- tak pernah membuat bosan. Anak.
| |